Ngopi Santai

Apa Keinginanmu Yang Belum Terwujud di 2021? Menurut Lina & Vishen, Ini Penyebab Kegagalan Resolusi

Tidak hanya individu, organisasi (seperti perusahaan) bahkan wajib hukumnya untuk menyusun target atau goal tahun depan.

Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Ilustrasi tentang penulisan resolusi atau tekad di awal tahun 

TRIBUN-BALI.COM - Setiap akhir tahun, ada kebiasaan dari sebagian orang untuk membuat resolusi. Misal di akhir tahun 2021 seseorang membuat resolusi untuk kehidupannya di tahun 2022.

Tidak hanya individu, organisasi (seperti perusahaan) bahkan wajib hukumnya untuk menyusun target atau goal tahun depan.

Itu tertuang dalam rencana bisnisnya (business plan), yang biasanya berisi inisiatif-inisiatif strategis yang akan dilakukan, apa sasarannya dan apa indikator pencapaiannya.

Secara sederhana, resolusi berarti tekad yang kuat atau ketetapan hati. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mendefinisikan resolusi, salah-satunya adalah “pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan (atau keinginan) tentang suatu hal”.

Pada umumnya, resolusi berisi keinginan, target atau goal (tujuan) yang ingin dicapai. Bisa dikatakan, membuat resolusi tak ubahnya seperti goal-setting atau membuat tujuan.

Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi

Baca juga: Belajarlah Untuk Bertambah Bodoh

Dalam praktik, meski awalnya diniatkan untuk diwujudkan atau dijalani sepanjang tahun, tak sedikit resolusi itu hanya berumur pendek.

Ada yang menyebutnya secara kelakar sebagai “semangat 45”. Maksudnya, semangat untuk mengikuti resolusi itu hanya bertahan 4-5 hari atau paling banter 45 hari, dan selebihnya kembali ke kebiasaan lama alias gagal total.

Mengapa resolusi gagal diwujudkan, bahkan bagi sebagian orang hanya bertahan seumur jagung?

Penulis buku Personal Development for Smart People, ahli jiwa Steve Pavlina menyebutkan kegagalan mewujudkan resolusi, antara lain, karena campuraduknya target antara (jangka pendek) dengan target jangka panjang. Padahal, harus dibedakan antara target antara dan target akhir.

Katakanlah, target jangka pendek itu dalam hitungan bulan, dan target akhir adalah realisasinya di ujung tahun.

Menurut Lina (panggil saja Pavlina demikian), tak jarang orang-orang menyamakan saja target jangka pendek dengan target jangka panjang.

Padahal, keduanya harus dibedakan, dan target jangka pendek semestinya merupakan perantara atau batu pijakan untuk mencapai target akhir.

Baca juga: Kemenjadian, Menyingkirkan Duri di Jalan dan Memberi Minum Anjing Kehausan

Baca juga: Informasi yang Bercahaya

Dalam bukunya The Code of The Extraodinary Mind, Vishen Lakhiani menjelaskan lebih jauh mengenai apa yang disebutnya sebagai tujuan semu dan tujuan hakiki.

Pendiri dan CEO Mindvalley ini (salah-satu perusahaan pengembangan diri internasional yang terkemuka) mengungkapkan, kebanyakan orang menetapkan tujuan hidupnya bukan berangkat dari kesadaran atau suara hati mereka yang terdalam.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved