Ngopi Santai

Apa Keinginanmu Yang Belum Terwujud di 2021? Menurut Lina & Vishen, Ini Penyebab Kegagalan Resolusi

Tidak hanya individu, organisasi (seperti perusahaan) bahkan wajib hukumnya untuk menyusun target atau goal tahun depan.

Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Ilustrasi tentang penulisan resolusi atau tekad di awal tahun 

Mereka menetapkan target dan tujuan hidupnya mengikuti standar dan ukuran umum yang berlaku di masyarakat.

Misalnya, saya harus dapat rangking 1 di kelas (karena dalam standar umum, rangking 1 merupakan pertanda kesuksesan); saya harus punya 3 mobil pribadi di garasi (karena miliki lebih dari 1 mobil dianggapnya sebagai  simbol kesuksesan di masyarakat).

Atau, anak saya harus meraih gelar akademik tertinggi (karena anak dengan rentetan gelar akademik dianggapnya sebagai ukuran keberhasilan orangtua di mata publik); saya harus pergi ke destinasi wisata luar negeri yang sedang trending di medsos (karena kalau fotonya diposting di akun medsos dan dapat like & comment banyak, itu menaikkan prestise saya) dan lain-lain.

Semua hal tersebut di atas, menurut Vishen, adalah tujuan semu selama tidak berangkat dari atau sejalan dengan kesadaran si individu mengenai makna terdalam tujuan itu bagi dirinya.

Tujuan semu atau means-goal adalah tujuan hidup yang diinfuskan dari luar, dan jenis tujuan hidup seperti inilah yang paling banyak dijalani orang-orang. Tujuan hidupnya tidak orisinal, baru sebatas kulit bukan isi, dan tidak berangkat dari suara hatinya yang terdalam, tapi dibentuk atau didikte oleh culture space. 

Menurut Vishen Lakhiani, culture space itu berisi standar, ukuran dan norma-norma yang disebutnya sebagai bullshit rules atau disingkat Brules. Ada yang menyebut Brules sebagai aturan tahi kucing.

Kita mesti retas aneka Brules itu untuk bisa sukses menjadi diri kita sendiri, demikian kata Vishen Lakhiani. 

Culture space itu bisa berupa tokoh idola di medsos, kebiasaan keluarga yang tidak memberdayakan, lingkungan pergaulan, media, tren di medsos atau internet dan lain-lain yang ada di masyarakat.

Resolusi yang berupa tujuan semu pada dasarnya adalah program-program dari luar diri, dan karena itu sesungguhnya tak bisa disebut sebagai resolusi pribadi. Dan, kemungkinan kegagalannya besar.   

Oleh karena itu, jangan terkecoh oleh tujuan semu, tapi carilah tujuan hakiki, dan kemudian fokus untuk mencapainya. Apa itu tujuan hakiki atau end-goal?

Baca juga: Kesetrum Vibrasi Energi Pak Kyai

Menurut Vishen Lakhiani, tujuan hidup merupakan end-goal jika ia mengandung tiga hal penting berikut ini bagi seseorang:

1) Meaningful experiences, yakni tujuan itu memberi pengalaman yang bermakna bagi kita

2) Growth, yaitu jika tujuan itu membuat anda bertumbuh positif

3) Contribution, yang berarti bahwa tujuan itu membuat dunia menjadi lebih baik melalui sumbangsih atau kontribusi anda

Jadi, apakah anda masih menyematkan resolusi anda pada culture space ataukah benar-benar mendengarkan suara dari dalam hati? Silakan evaluasi.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved