Wawancara Tokoh

2 Tahun Tak Ada Turis Asing, Puspanegara: Wisatawan Domestik Belum Mengangkat Okupansi Hotel di Bali

Dan ini tidak mampu mengangkat okupansi hotel, terutama okupansi hotel yang  non bintang. Karena jumlah kamar di Badung saja ada 89 ribu kamar,

Zaenal Nur Arifin
Suasana terminal kedatangan domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat, 24 Desember 2021 sore. 2 Tahun Tak Ada Turis Asing, Puspanegara: Wisatawan Domestik Belum Mengangkat Okupansi Hotel di Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sudah dua tahun Bali tidak merasakan hawa turis asing berlibur, khususnya melalui Bandara Internasional Ngurah Rai.

Pandemi akibat meluasnya virus Covid-19, membuat pariwisata Pulau Dewata mati suri.

Namun kini telah memasuki tahap terseok-seok. Lalu seperti apakah kondisi pariwisata sebenarnya? Apakah perhelatan internasional G20 akan membantu Bali? Simak wawancara selengkapnya Tribun Bali bersama Praktisi Pariwisata, Wayan Puspanegara.

Apa kegiatan pak Puspanegara sekarang?

Jawab:  Saya sekarang aktif di lapangan, dan menjadi Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali (APPMB).

Baca juga: Pihak Desa Banjarangkan Ajukan Usul Pengelolaan dan Pengembangan Pariwisata Kawasan Goa Jepang

Apa itu APPMB?

Jawab:  Kami adalah aliansi dari para pelaku sektor pariwisata kalangan bawah, termasuk juga pemilik homestay, pegawai pariwisata, dan masih banyak lagi yang jumlahnya sangat banyak di Bali. Kami merasa senasib yang memiliki kegiatan di tingkat bawah di sektor pariwisata, ya seperti guide freelance supir freelance, daily worker, pekerja kontrak, dan lain sebagainya. Mereka adalah kaum marginal, yang memiliki banyak pertanyaan dan masukan di kondisi saat ini.

Mengapa akhirnya dibentuk APPMB?

Jawab: Sebab kaum marginal inilah yang mendapatkan dampak paling serius, dan paling berat dalam tekanan hidup di masa pandemi Covid-19 ini. Jadi kami berkumpul, berdiskusi, dan berpikir apa yang bisa kami lakukan untuk ikut sumbang saran membantu pemerintah dalam mengatasi pandemi ini. Makanya kami buat aliansi ini.

Anggota APPMB siapa saja?

Jawab: Anggota APPMB luar biasa banyak. Kalau yang eksis minimal 1.500-an lah. Di luar 1.500-an ini masih banyak lagi, karena pariwisata itu kan bukan hanya hotel dan restoran saja. Jadi turunannya banyak sekali, dan tenaga kerjanya juga luar biasa banyak. Kalau berbicara induknya saja, sektor akomodasi, kuliner, atraksi, dan lain sebagainya. Turunannya ada guide, suplier, supir, pedagang kaki lima, tukang pijat di pantai, pedagang acung, dan masih banyak lagi.  Bahkan sampai kepada petani yang menanam suplai makanan.

Dampak Seperti Apa yang Dialami?

Jawab:  Bayangkan produk petani yang sebelumnya bisa diserap pariwisata, kini susah sekali diserap karena pariwisata tidak jalan. Dampak lainnya, destinasi pariwisata kita kan banyak. Salah satunya destinasi pariwisata kerakyatan. Sejak zaman Gubernur Bali, Prof. Ida Bagus Mantra, pariwisata kita dibelah menjadi dua, belahan pertama dimana masyarakat berbaur dengan wisatawan. Makanya lahir destinasi Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, Munggu, Berawa dan seterusnya. Kemudian destinasi yang dipisah dengan wisatawan, itu dibuat di Nusa Dua dan menjadi zona ekslusif. Sehingga konteks destinasi kerakyatan inilah yang sekarang mengalami hantaman luar biasa. Khususnya di wilayah Kuta, Seminyak, dan Legian. Sampai saat ini selama dua tahun belakangan, kegiatan pariwisata tidak bergerak sama sekali.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved