Wawancara Tokoh

2 Tahun Tak Ada Turis Asing, Puspanegara: Wisatawan Domestik Belum Mengangkat Okupansi Hotel di Bali

Dan ini tidak mampu mengangkat okupansi hotel, terutama okupansi hotel yang  non bintang. Karena jumlah kamar di Badung saja ada 89 ribu kamar,

Zaenal Nur Arifin
Suasana terminal kedatangan domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat, 24 Desember 2021 sore. 2 Tahun Tak Ada Turis Asing, Puspanegara: Wisatawan Domestik Belum Mengangkat Okupansi Hotel di Bali 

Bukankah Sudah Ada Wisatawan Domestik?

Jawab:  Memang ada agak ramai, khususnya di pergantian tahun 2021 ke 2022 kemarin dari kedatangan wisdom. Tetapi tidak memberikan tendangan yang berarti, karena jumlah wisatawan saat peak season yang masuk ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai, total 13.000 avarage setiap hari. Dan ini tidak mampu mengangkat okupansi hotel, terutama okupansi hotel yang  non bintang. Karena jumlah kamar di Badung saja ada 89 ribu kamar, kemudian wisdom yang masuk 13.000 tentu ini masih jomplang.

Lalu solusi apa yang menjadi harapan insan pariwisata?

Jawab:  Kami berharap sekali kepada pemerintah, terutama pemerintah daerah. Karena sejak PPKM ini dideklarasikan, dampaknya kian signifikan.  Hal yang menyebabkan masyarakat di destinasi kerakyatan, kian sekarat yang pertama adalah jam buka.  Jadi aturan PPKM membatasi jam buka hanya sampai 20.00 malam saja. Masalahnya di destinasi kerakyatan ini, kan kehidupannya mulai pada malam hari dari pukul 20.00 sampai pukul 07.00. Bahkan bisa dikatakan perputaran di destinasi kerakyatan itu, adalah 24 jam. Sehingga ketika ada pembatasan jam ini, benar-benar kian memukul destinasi kerakyatan ini.

Bagian mana saja di destinasi kerakyatan yang paling terdampak?

Jawab: Hampir semua, karena di destinasi kerakyatan ada hotel, ada sarana pendukung lainnya. Ada artshop, ada cafe dan restoran, ada wahana bermain, dan masih banyak lagi. Bahkan termasuk warung kaki lima, toko suvenir, serta UMKM lainnya. Seperti di Kuta misalnya, pasarnya terjadi sore hingga malam hari. Wisawatan yang masuk hotel jam dua sore, pasti akan makan keluar dan belanja pada malam harinya atau sekadar jalan-jalan sore. Besok paginya juga dia tour and outbond ke destinasi baik alam maupun buatan. Semisal mereka tour ke Kintamani, lalu balik ke Kuta pada sore hari. Setelah itu kan mereka dinner, baik di hotel maupun di sekitar destinasi kerakyatan ini. Sementara dengan pembatasan tentu saja akhirnya semua terdampak dan mati usahanya.

Baca juga: Perhelatan Finance Track G20 Dipindah ke Jakarta, Begini Respons Praktisi Pariwisata Bali

Memangnya apa yang disukai turis khususnya turis asing?

Jawab: Tentu saja sesuai dengan pariwisata Bali yang berbasis budaya, para turis ini senang menikmati hari sembari berbaur dengan masyarakat Hindu di Bali. Melihat kehidupan masyarakat sembari menikmati pemandangan dan atmosfer Bali. Terlebih yang stay hanya 3 hari dua malam, tentu tidak mau melewatkan momen itu. Dan biasanya mereka tidak stay di hotel, tetapi akan keliling tour and melihat Bali lebih luas. Karena kan budaya itu ada di masyarakat bukan di hotel. Jadi begitu ditutup jam delapan malam, begitu wisatawan masuk hotel kan tidak bisa keluar jadinya. Akhirnya masyarakat tidak mendapatkan konsumen, dan lambat laun berpengaruh pada usahanya.

Tetapi kemudian PPKM kan terus dievaluasi dan direlaksasi?

Jawab:  Memang betul, tetapi kan waktunya hanya sampai pukul sembilan malam saja. Hal itu masih tidak memungkinkan masyarakat kami untuk bernafas. Lalu PPKM turun ke level III, dan waktu dilonggarkan sampai jam 10 malam. Ini bisa saya bilang setengah mati setengah hidup, artinya masih kejar-kejaran kalau mau menikmati suasana di luar hotel. Jadi sampai sekarang di level dua, masih dibatasi sampai pukul 10 malam. Dan tentu saja ini masih membatasi wisatawan. Makanya lihatlah jalan di Legian sekarang, sepi seperti Nyepi. Apalagi mulai sore ke malam, sangat sunyi berbeda dari dulu.

Terus dampaknya bagaimana kepada pelaku pariwisata di destinasi kerakyatan ini?

Jawab:  Akhirnya tutup total, karena turis asing tidak ada. Dan tidak ada yang belanja. Masyarakat di sana hidup kan dari menyewakan toko, artshop, dan kios. Sekarang tidak ada yang menyewa karena tidak ada pembeli, jadi kosong dan tidak ada pemasukan. Masyarakat kami untuk makan besok, dia harus pinjam sana-sini. Akibatnya adalah mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya mereka menjual aset untuk bertahan hidup.

Apakah banyak yang menjual asetnya?

Jawab:  Inilah yang masif sekarang di tempat kami, makanya sangat berbahaya. Akhirnya lama-lama masyarakat Bali tidak memiliki aset lagi, dan dimiliki orang luar. Dan akhirnya masyarakat Bali lambat-laun akan menjadi penonton saja di tanahnya sendiri. Ibaratnya rural ke transmigran. Inilah kondisinya masyarakat di destinasi kerakyatan kita sekarang, karena kalau tidak menjual aset ya mereka tidak makan. Oleh karena itu, kami ingin good will dari pemerintah. Kami dari APPMB hanya ingin meneruskan suara-suara kaum marginal ke pemerintah, bahwa demikianlah kondisinya di bawah. Khususnya kami memohon kepada pemerintah daerah, yang diberikan kewenangan melanjutkan PPKM di tingkat daerah.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved