Berita Nasional

Epidemiolog Sebut Kasus Covid-19 Tembus 11 Ribu Adalah Fenomena Puncak Gunung Es

ia meminta agar kapasitas tempat tidur di rumah sakit diprioritaskan untuk pasien yang memiliki gejala sedang dan berat

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Ilustrasi virus corona Covid-19 

TRIBUN-BALI.COM - Ahli epidemiologi Indonesia di Griffith University Dicky Budiman menyatakan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi dalam beberapa hari terakhir merupakan tahap awal.

Oleh sebab itu, ia meminta agar kapasitas tempat tidur di rumah sakit diprioritaskan untuk pasien yang memiliki gejala sedang dan berat.

"Kita masih di awal, belum puncak, jangan sampai RS penuh duluan, maka perlu penguatan sistem rujukan selain tadi dideteksi ke komunitas, dan tentu di sini juga dropping dari APD dan pelayanan publik, obat termasuk oksigen perlu dipersiapkan," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Minggu (30/1/2022).

Dicky menilai, kasus Covid-19 yang sudah menembus angka 11.000 dalam sehari merupakan fenomena puncak gunung es.

Baca juga: Tanpa Demam, Ini Gejala Awal Terpapar Omicron

Sebab, penularan Covid-19 varian Omicron lebih cepat dengan angka reproduksi di atas 5.

"Kalau Indonesia melaporkan 11 kasus bahkan 20 ribu sekaligus, itu fenomena puncak gunung es, kita harus sadari ini hitungan matematis yang sangat rasional (dari) pertumbuhan omicron ini yang masa inkubasinya singkat dan angka reproduksinya di atas 5," ujarnya.

Di samping itu, pola pertumbuhan varian omicron juga lebih cepat yaitu 2-3 hari sehingga ia memprediksi mayoritas masyarakat sudah terinfeksi Omicron.

Namun, sekitar 80-90 persen kasus Covid-19 Omicron memiliki gejala ringan dan sedang.

"Ini yang membuat orang enggak aware apalagi Indonesia literasi masyarakat kita terhadap Covid-19 masih sangat harus kita tingkatkan," ucapnya.

Berdasarkan hal tersebut, Dicky mendorong agar pelaksanaan 3T yaitu pemeriksaan (testing), pelacakan kontak erat (tracing) dan perawatan (treatment) ditingkatkan sebagai salah satu upaya mitigasi.

Ia mengatakan, jika peningkatan 3T terlambat dilakukan, akan berdampak pada kelompok rentan seperti lansia, anak, dan penderita komorbid.

"Kalau tidak ada mitigasi yang kuat dalam peningkatan kasus ini, ini akan menyebar ke kelompok berisiko tinggi seperti lansia, komorbid, anak.

Jadi ke depan korban bisa terjadi lagi, orang-orang di rawat RS, meninggal itu bisa terjadi," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, kasus harian Covid-19 kembali meningkat yaitu sebanyak 11.588 pada Sabtu (29/1/2022) setelah 5 bulan angka harian tidak pernah tembus di angka 11.000.

Baca juga: Pemerintah Akan Bangun Pusat Riset Vaksin di Bali, Gandeng Merck hingga Pfizer

Terakhir, kasus harian yang tembus 11.000 yaitu pada 27 Agustus 2021 dengan jumlah kasus 12.618.

Adapun penambahan kasus harian Covid-19 diperoleh setelah dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak 383.401 yang diambil dari 261.050 orang.

Sementara itu, Satgas Penanganan Covid-19 juga melaporkan sebanyak 2.590 kasus sembuh dari Covid-19 sehingga total kasus menjadi 4.133.923.

Selain itu, kasus kematian akibat Covid-19 dilaporkan bertambah 17, sehingga total kasus menjadi 144.285.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Kita Masih di Awal, Belum Puncak Kasus Omicron, Jangan Sampai RS Penuh Duluan...""

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved