Berita Bali

Muncul Klaster PTM, Mulai Besok Seluruh SMA/SMK di Bali Lakukan Pembelajaran Secara Hybrid

Kepala Disdikpora Bali, KN Boy Jayawibawa mengatakan evaluasi tersebut berupa imbauan agar seluruh sekolah SMA/K di 9 Kabupaten atau Kota di Bali

Marianus Seran/M.Firdian Sani
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bali, Dr KN Boy Jayawibawa. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Munculnya kluster akibat pembelajaran tatap muka (PTM) dibeberapa sekolah SMA di Bali membuat pemerintah Provinsi Bali membuat evaluasi.

Ketika dikonfirmasi Kepala Disdikpora Bali, KN Boy Jayawibawa mengatakan evaluasi tersebut berupa imbauan agar seluruh sekolah SMA/K di 9 Kabupaten atau Kota di Bali melakukan pembelajaran kombinasi secara hybrid.

"Dari beberapa sekolah ada laporan (kasus Covid-19), jadi kami sesuai dengan arahan Gubernur Bali dan setelah dilakukan evaluasi terkait pembelajaran tatap muka mulai hari ini sudah bersurat kepada seluruh kepala sekolah jenjang SMA/K SLB di 9 kabupaten atau Kota agar mulai melaksanakan pembelajaran hybrid atau kombinasi lagi," ungkapnya pada, Rabu (2 Februari 2022).

Pembelajaran kombinasi hybrid disini artinya, jika sebelumnya pembelajaran dilakukan secara tatap muka hingga 100 persen, mulai besok sekolah harus menerapkan pembelajaran dengan sistem online dan tatap muka.

Baca juga: Seorang Guru di SMPN 1 Denpasar Positif Covid-19, Tracing & Testing Mulai Dilakukan Hari Ini

"Kita lihat sampai akhir Februari ini sebulan ini. Karena kami sangat memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, guru dan tenaga kependidikan.

Dikombinasikan online dan tatap muka. Kalau kemarin per 3 januari sampai hari ini tatap muka 100 persen.

Kemudian sekolah setelah ini harus mengatur ada yang belajar online dan tatap muka. Tidak semuanya atau 100 persen tatap muka.

Kalau misalnya didaerah yang terpencil tidak ditemukan kasus Covid-19 seperti ini silahkan tatap muka.

Tetapi untuk di tempat-tempat yang memang rawan berpotensi terjadi penyebaran tentu saja harus secara online," tambahnya.

Ia juga menekankan, kalaupun ada yang melakukan pembelajaran tatap muka harus terbatas sekali sifatnya.

Diharapkan semua sekolah menerapkan evaluasi tersebut. Namun ini hanya sebulan, pihaknya akan melihat kembali bagaimana perkembangan terakhir.

"Karena ini sangat mengkhawatirkan jika dilihat perkembangan terakhir yang terpapar Covid-19. Berlakunya mulai besok sampai akhir Februari. Karena kita baru bersurat ke kepala sekolah untuk menyikapi pola pembelajaran secara hybrid. Ini berlaku juga untuk sekolah Negeri maupun Swasta," ujarnya

Sejauh ini pihaknya pun sudah melakukan monitoring atau pengecekan ke sekolah-sekolah terkait pelaksanaan prokes Covid-19.

Diakui Boy penerapan prokes memang sudah bagus mulai dari penggunaan aplikasi PeduliLindungi, hingga prokes dikelas, dinilainya sudah bagus.

Baca juga: Kasus Omicron di Indonesia Terus Meningkat, Kemendikbudristek Didesak Hentikan PTM

"Hanya saja siswa ini memang dari luar kedapatan terpaparnya sehingga sudah kita lakukan tracing pada teman-teman dan gurunya sehingga ada yang terpapar.

Untuk menyikapi hal tersebut mulai besok sekolah harus kombinasi pembelajarannya.

Nanti kepala sekolah yang paham berapa jumlah murid untuk melakukan pembelajaran online atau tatap muka," tutupnya. (*)

Artikel lainnya di Berita Bali

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved