Berita Karangasem

Harga Ikan Tongkol di Karangasem Naik Drastis, Nelayan Pilih Tak Melaut

Harga ikan tongkol di Kabupaten Karangasem meningkat 100 persen lebih. Kenaikannya dari 2.000 menjadi 6.000 perekor.

Tribun Bali/Saiful Rohim
Pantai di kawasan Ujung Pesisi Karangasem, Bali. Harga ikan tongkol di Kabupaten Karangasem meningkat 100 persen lebih. 

TRIBUN BALI. COM, KARANGASEM - Harga ikan tongkol di Kabupaten Karangasem meningkat 100 persen lebih.

Kenaikannya dari 2.000 menjadi 6.000 perekor.

Sedangkan ikan tongkol berukuran kecil naik  dari 1.000 menjadi 4.000 ribu perekor. Kondisi ini terjadi sejak seminggu yang lalu.

Dahlan nelayan asal Ujung Pesisi, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem mengungkapkan, harga ikan tongkol  naik sejak seminggu yang lalu.

Baca juga: Petani Arak Tradisional di Karangasem Keluhkan Menjamurnya Produksi Arak Gula,Ini Kata Gubernur Bali

Pemicunya karena populasi ikan sedikit, alias paceklik. Nelayan yang turun melaut rata -rata  hanya dapat sekitar 25 - 50 ekor tiap turun melaut.

"Ikan paceklik. Makanya banyak nelayan tak melaut. Khawatir rugi. Senin (21/2/2022), hampir semua nelayan memilih tak melaut karena diguyur hujan seharian," ungkap Dahlan.

Ikan tongkol yang ke permukaan sedikit, daripada merugi banyak lebih baik nelayan libur untuk sementara sekalian memperbaiki alat melautnya.

"Padahal harga ikan tongkol lumayan tinggi," tambah Dahlan ditemui di Pesisir Pantai Ujung Pesisi, Desa Tumbu, Kecamatan  Karangasem tersebut.

Untuk gelombang di tengah laut masih bersahabat. Gelombang laut diperkirakan mencapai 0.5 sampai 1 meter.

Kondisi ini terjadi sejak satu bulan terakhir. Angin juga tidak terlalu kencang.

Baca juga: 5 Pasien Covid-19 Sembuh, Isoter di Karangasem Nihil Pasien Dirawat

Hanya di tengah laut sering hujan dan berkabut, sehingga membuat pandangan kurang jelas.

Pihaknya berharap, cuaca makin membaik sehingga nelayan bisa kembali melaut mencari ikan.

Populasi ikan terus meningkat, sehingga hasil tangkapan para nelayan meningkat.

"Tumben pacek di Bulan Februari. Apa pemicunya saya tidak tahu betul,"imbuh Dahlan. (*)

Berita lainnya di Berita Karangasem

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved