Human Interest Story

Usai Merantau & Kuliah di Australia,Ryan Bangun Coffee Shop di Kintamani yang Pekerjakan 42 Karyawan

Ryan mengisahkan awal mula pembangunan Paperhills Cafe. Dimulai dari anak kedua dari tiga bersaudara ini, merantau ke luar negeri mulai tahun 2010

Tribun Bali/Arini Valentya Chusni
I Made Ryan Marantika didampingi ayahnya 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Sepanjang Jalan Raya Penelokan, Kintamani, Bangli nampak berjejer sejumlah coffee shop yang menghadap ke Danau dan Gunung Batur.

Satu dari deretan coffee shop tersebut dimiliki dan dikelola oleh seorang pemuda lokal dari Desa Batur Tengah, Kintamani, yakni I Made Ryan Marantika.

Tribun Bali berkesempatan mengunjungi coffee shop yang dijalankan oleh Ryan, yakni Paperhills Cafe, pada Minggu, 27 Februari 2022.

Ditemani ayahnya, Ryan mengisahkan awal mula pembangunan Paperhills Cafe. Dimulai dari anak kedua dari tiga bersaudara ini, merantau ke luar negeri mulai tahun 2010 untuk kuliah di Sidney Australia, hingga menetap di sana selama 11 tahun.

Baca juga: Peringati Bulan Bahasa Bali, SMPN 2 Bangli Gelar Serangkaian Lomba

Ia mengaku mengikuti jejak kakaknya untuk merantau ke luar negeri. Sebelumnya sang kakak menetap di Amerika Serikat (AS) selama 5 tahun. Dan hal itu lalu menjadi inspirasi baginya, hingga terbersit niat untuk kuliah di luar negeri.

“Kakak saya dulu awalnya kuliah, lalu ada program pelatihan dari kampus, baru dia berangkat (ke AS). Waktu itu saya berpikir kalau saya kuliah di Bali dulu baru berangkat, lumayan waktu yang hilang bisa 3 tahun lebih.

Waktu itu ada saudara yang mengajak berangkat hingga berangkatlah saya ke sana (Australia) dan menetap di sana,” kata alumnus SMAN 7 Denpasar ini.

Selama di Australia, dirinya belajar banyak hal, lalu dibandingkan apa yang ada di sana dengan di Bali, dari culture hingga peluang usaha.

Sebetulnya keinginan membuka usaha coffee shop di Bali sudah ada di pikiran Rian sejak tahun 2015, dimana kala itu dirinya sempat pulang kampung.

Namun saat itu, ia memiliki target untuk mendapat kewarganegaraan (permanent resident) di Australia, lalu memutuskan kembali ke Australia untuk bekerja.

Hingga tahun 2020, ada rencana sang kakak dan adiknya membuka usaha di Bali, dimana awalnya direncanakan dibangun di Canggu, Badung.

Tetapi, pada saat itu mulai ada pandemi Covid-19, sehingga hal itu urung dilakukan.

Disaat yang bersamaan, Ryan melihat peluang usaha di Kintamani sedang naik daun. Akhirnya tahun 2020 mulai dibangun Paperhills Cafe ini, dan baru di-launching pada Agustus 2021.

Uang yang dikumpulkan selama 11 tahun bekerja di Australia pun habis semua untuk membangun Paperhills. Serta dibantu dengan kakak, adik dan orangtua.

Baca juga: Warung Babi Guling Pak Pande Buka hingga Tengah Malam, Paling Banyak Dicari Warga Luar Bangli

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved