Serba Serbi

Ruwatan Tumpek Wayang, Membantu Terhindar dari Sifat Kala

Tumpek sendiri juga merupakan hari suci di dalam Hindu Bali, sehingga banyak piodalan pada hari tumpek.

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
suasana saat Dewa Mangku Dalang Samerana melakukan ruwatan sekaligus menjadi dalang wayang dalam upacara ruwatan melik kelahiran wuku Wayang. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tumpek Wayang adalah salah satu hari madurgama, di dalam kehidupan Hindu di Bali.

Bukan tanpa alasan, sebab kelahiran ini menyamai kelahiran Sang Hyang Kala.

Tumpek Wayang tahun 2022, jatuh pada Sabtu 5 Maret 2022 (kemarin).

Tumpek sendiri juga merupakan hari suci di dalam Hindu Bali, sehingga banyak piodalan pada hari tumpek.

Baca juga: Tumpek Wayang di Pura Jagatnatha Denpasar, Kisah Penyelamatan Bathara Kumara oleh Dalang

Hanya saja apabila kelahiran, pada Tumpek Wayang termasuk ke dalam kelahiran madurgama atau bersifat panas. Sebab menyamai kelahiran Sang Hyang Kala, putera dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Dikisahkan dalam berbagai sastra Hindu kuno, bahwa kama Dewa Siwa jatuh ke lautan saat melihat kemolekan tubuh istrinya yaitu Dewi Parwati. Sebab angin meniup kain sang dewi, sehingga memperlihatkan bagian bawah tubuhnya.

Kama ini kemudian bergejolak di lautan, dan berubah menjadi raksasa yang luar biasa besarnya.

Raksasa itulah bernama Dewa Kala. Singkat cerita, Dewa Kala yang lahir saat Tumpek Wayang diberi anugerah oleh Dewa Siwa untuk memangsa siapa saja yang lahir menyamai dirinya. Sayang seribu sayang, adiknya sendiri bernama Hyang Kumara lahir di hari yang sama.

Dewa Kala yang ingin memangsa adiknya sendiri, akhirnya membuat Dewa Siwa kebingungan.

Akhirnya Dewa Siwa mengutuk Hyang Kumara, tidak akan pernah besar. Agar tidak dimangsa oleh kakaknya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved