Kisruh Rusia dan Meta

Alasan Rusia Blokir Facebook dan Instagram: Ijinkan Pengguna Caci Maki Sikap Invasi Militer Rusia

Pengguna Facebook dan Instagram kini diperbolehkan mengecam tindakan invasi Rusia ke Ukraina, termasuk mencaci maki sikap pemerintah Rusia.

Alexey NIKOLSKY / Sputnik / AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di Kremlin di Moskow pada 21 Februari 2022. Dua miliarder Rusia, Mikhail Fridman dan Oleg Deripaska menentang invasi skala penuh yang dilancarkan Moskow ke Ukraina. 

TRIBUN-BALI.COM - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Rusia disebut telah memblokir raksasa media sosial, Facebook karena membatasi akses dan mensensor informasi dari sejumlah akun media berbahasa Rusia. 

Selanjutnya, media sosial Instagram juga akan diblokir oleh Rusia dalam beberapa hari ke depan.

Pengunjung berfoto di depan logo baru dari nama baru perusahaan induk Facebook
Logo baru dari nama baru perusahaan induk Facebook (NOAH BERGER / AFP)

Hal ini diumumkan Roskomnadzor, lembaga eksekutif federal Rusia yang mengurus media elektronik, komunikasi massa, dan teknologi informasi, dalam sebuah pernyataan di situs pemerintah berbahasa Rusia.

Baca juga: Invasi Ukraina, Facebook Larang Media Pemerintah Rusia Menjalankan Iklan atau Monetisasi

Pemblokiran ini dipicu oleh kebijakan terbaru Meta yang mengizinkan pengguna Facebook dan Instagram di sejumlah wilayah, termasuk di Rusia dan Ukraina, menyebarkan ujaran kebencian yang melibatkan invasi Rusia ke Ukraina.

"Pesan yang mengalir di Instagram bisa mendorong dan memprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga Rusia." begitu keterangannya.

Presiden Meta Global Affairs, Nick Clegg menanggapi setelah tindakan pemerintah Rusia dengan pernyataan tweet yang mengatakan bahwa perusahaan tersebut bertujuan untuk melindungi hak berbicara sebagai ekspresi pembelaan diri.

Baca juga: Rusia Blokir Instagram Imbas Kebijakan Terbaru Meta, Pengguna Diminta Back up Foto

"Jika kami menerapkan kebijakan konten standar kami tanpa penyesuaian apa pun, kami sekarang akan menghapus konten dari warga Ukraina biasa yang mengungkapkan perlawanan dan kemarahan mereka pada pasukan militer yang menyerang, yang akan dianggap tidak dapat diterima," tulis Clegg seperti diterjemahkan Tribun-Bali dari Reuters.

"Kami tidak bertengkar dengan orang-orang Rusia. Tidak ada perubahan sama sekali dalam kebijakan kami tentang ujaran kebencian sejauh menyangkut orang-orang Rusia," tambahnya.

Dua minggu setelah perang Rusia di Ukraina, juru bicara Meta memang secara mengejutkan menyatakan bahwa mereka untuk sementara mengubah aturannya untuk pidato politik.

Mereka pun mengizinkan penggunanya memposting seperti caci makian seperti "kematian bagi penjajah Rusia".

Baca juga: RUSIA BERGERAK: Kemenhan Jepang Lapor 10 Kapal Angkatan Laut Rusia Lewati Selat Tsugaru Jepang

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved