Berita Bali

Hari Raya Saraswati, Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan, Ini Persembahan yang Dihaturkan

Hari Raya Saraswati, Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan, Ini Persembahan yang Dihaturkan

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Putu Supartika
Seorang pamedek sedang menghaturkan canang pada Hari Raya Saraswati di Pura Jagatnata Denpasar, Sabtu 7 Desember 2019. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari Raya Saraswati, Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan, Ini Persembahan yang Dihaturkan.

Sabtu 26 Maret 2022 merupakan Hari Raya Saraswati.

Hari raya ini diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari), tepatnya pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung.

Hari Raya Saraswati ini dipercaya sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan.

Sekaligus sebagai penghormatan terhadap Dewi Pengetahuan yaitu Dewi Saraswati.

Baca juga: Kaitan Hari Suci Soma Ribek, Saraswati dan Pagerwesi dalam Lontar Sundarigama

Terkait pelaksanaan Hari Raya Saraswati termuat dalam Lontar Sundarigama.

Menurut Dosen Unud Putu Eka Guna Yasa, Lontar Sundarigama ini merupakan pedoman pelaksanaan upacara di Bali baik berdasarkan sasih maupun wuku.

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

Watugunung, Saniscara, Umanis, puja walin Betara Saraswati widi-widanania, nistania, suci peras daksina, penek ajuman sesayut saraswati, banten saraswati, segara gunung, perangkat putih kuning, tansah wangi-wangi, daksina, pengadegan abesik, kembang payas sekar cana, canang yasa, sadulurania sehananing pustaka, makelingganing aksara pina hayu, puja walinin, saha aturaken puspa wangi, astawakne tirta pakuluh ring Sang Hyang Surya samana tan wenang angereka, aksara, amaca, anulis, tuwi makidung muang kekawin, tuwi arerasan saluwiring tatuwa aksara suksema, kewalia amuja-muja walinin betara Saraswati juga wenang, apan sang pinuja sira amdalaning sarwa dewa, kewala meneng juga sira ayoga.

Artinya: 

Pada Saniscara Umanis, merupakan hari pemujaan untuk Dewi Saraswati.

Dalam pemujaan ini, upakaranya yaitu suci, peras, daksina palinggih, kembang payas, kembang cana dan kembang biasa, sesayut saraswati, prangkatan atau rantasan putih kuning, serta buah-buahan beserta runtutannya.

Sang Hyang pustaka atau lontar-lontar keagamaan, tempat menuliskan aksara ditata dengan sebaik-baiknya, dipuja, dan diupacarai dengan puspa wangi.

Hal inilah yang disebut memuja Sang Hyang Bayu yaitu gerak, kata-kata dan pikiran.

Baca juga: Gelar Perayaaan Hari Suci Saraswati Nasional,Menteri Agama Ajak Umat Hindu Kuatkan Moderasi Beragama

Dalam melakukan pemujaan dengan banten tidak wajar menulis surat, tak wajar membaca buku-buku weda, dan kidung kekawin, dan yang wajar yaitu melakukan yoga.

Sehingga saat perayaan Saraswati ini hendaknya melakukan yoga samadhi, dengan memusatkan bayu, sabda, idep.

Juga memaknai hakikat atau intisari dari pengetahuan itu sendiri.

(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved