Serba serbi

Hari Raya Soma Ribek, Pemujaan untuk Sang Hyang Sri Amerta

Senin 28 Maret 2022 merupakan Soma (Senin) Pon wuku Sinta. Saat ini umat Hindu khususnya di Bali melaksanakan hari raya yang disebut Soma Ribek.

Istimewa
ilustrasi padi - Hari Raya Soma Ribek, Pemujaan untuk Sang Hyang Sri Amerta 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Senin 28 Maret 2022 merupakan Soma (Senin) Pon wuku Sinta.

Saat ini umat Hindu khususnya di Bali melaksanakan hari raya yang disebut Soma Ribek.

Setelah hari Sabtu kemarin, Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Watugunung merayakan Hari Raya Saraswati dan juga Banyu Pinaruh pada hari Minggu Umanis, maka hari ini masyarakat merayakan Hari Raya Soma Ribek.

Dalam lontar Sundarigama yang merupakan lontar yang digunakan sebagai tuntunan dalam melaksanakan upacara yadnya di Bali disebutkan: 

Baca juga: Kaitan Hari Suci Soma Ribek, Saraswati dan Pagerwesi dalam Lontar Sundarigama

Wuku Sinta, Soma Pon, ngaran Soma Ribek, mangereti ring Sang Hyang Tri Murti ungguan ring lumbung, paryangan, widi-widana, nyanyah geringsing.

Berdasarkan terjemahan Lontar Sundarigama yang diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma Kabupaten Tabanan tahun 1976, artinya:

Soma Pon Sinta disebut juga Soma Ribek, hari pujawali Sang Hyang Sri Amerta, tempat bersemayamnya adalah di Lumbung.

Pada hari ini diadakan upacara untuk selamatan atau penghormatan terhadap beras di pulu dan padi di lumbung yang sekaligus mengadakan pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai tanda bersyukur serta semoga tetap memberi kesuburan. 

Adapun sarana upakaranya yiatu nyahnyah geti-geti, raka pisang mas, disertai dengan bunga serba harum.

Lebih lanjut dalam lontar tersebut dikatakan: ikang wang tan wenang anumbuk pari, angadol beras, katemah dening Bhatara Sri. Pakenania wenang ngastuti Sang Hyang Tri Pramana. Angisep sari tatwa adnyana, aja aturu ring rahinane.

Baca juga: Tidak Boleh Membaca Saat Saraswati, Berikut Penjelasan Ida Rsi Bhujangga

Artinya pada saat Soma Ribek, orang-orang tak diperkenankan menumbuk padi, demikian juga menjual beras, karena jika dilanggar, maka akan dikutuk oleh Bhatari Sri.

Selain itu pada hari ini juga tidak diperkenankan untuk tidur siang hari.

Hal ini dikarenakan Sang Hyang Pramesti Guru tengah melakukan yoga di siang hari, sehingga umat Hindu harus menghormati-Nya.

Oleh karena itu, pada hari ini seseorang diharapkan untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Tri Pramana, serta mempelajari atau memetik sari tattwa adnyana atau intisari dari ajaran kebenaran. 

Pantangan tidak menumbuk padi atau menjual beras adalah wujud penghormatan kepada tanaman utamanya padi yang sama juga artinya sebagai wujud penghormatan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi. (*)

Artikel lainnya di Serba serbi

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved