Berita Buleleng

Ayah Akui Perkosa Anaknya Satu Kali di Buleleng, Korban Bersama Ibu Beranikan Diri Lapor Polisi

Pria asal Kecamatan Sawan, Buleleng ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena tega menyetubuhi anak kandungnya sendiri.

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Polisi menunjukkan tersangka DBP, pelaku persetubuhan terhadap anak kandungnya sendiri, di Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat 8 April 2022 - Ayah Akui Perkosa Anaknya Satu Kali di Buleleng, Korban Bersama Ibu Beranikan Diri Lapor Polisi 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Polisi menetapkan DBP (45) sebagai tersangka kasus pemerkosaan.

Pria asal Kecamatan Sawan, Buleleng ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena tega menyetubuhi anak kandungnya sendiri.

Kapolres Buleleng, AKBP Andrian Pramudianto mengatakan, penetapan tersangka dilakukan setelah polisi menerima hasil visum korban dari RSUD Buleleng.

Dari hasil visum itu ditemukan luka robek pada selaput dara korban.

Baca juga: Kondisi Labil, Korban Pemerkosaan Ayah Kandung di Buleleng Diberikan Pendampingan Psikolog

Penyidik masih merampungkan berkas perkara untuk diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Buleleng.

Untuk itu DBP akan menjalani penahanan selama 20 hari kedepan di Rutan Polres Buleleng.

Korban disetubuhi oleh ayahnya satu kali pada 26 Maret.

Korban saat itu sedang tidur di kamar dengan kondisi kesehatan yang kurang baik.

Ayahnya tiba-tiba masuk kamar dan langsung membuka seluruh pakaian korban.

Ia berontak namun kedua tangannya dipegang.
Usai disetubuhi, korban langsung mencari keluarganya yang ada di rumah tersebut.

Korban menceritakan seluruh kejadian yang ia alami.

Korban bersama ibunya memberanikan diri untuk melapor ke Unit PPA Polres Buleleng.

"Saat kejadian, ibunya tidak di rumah. Ibunya sedang berada di Kintamani. Namun selama menjalani pemeriksaan di Unit PPA, korban selalu didampingi oleh ibunya," katanya.

DBP mengakui memperkosa anak kandungnya. DBP dijerat Pasal 81 ayat 3 UU RI Nomor 17 tahun 2016, tentang peraturan pemerintah pengganti UU RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengajak seluruh komponen masyarakat bahu membahu memutus mata rantai kejahatan seksual terhadap anak.

Baca juga: Korban Dilema Laporkan Ayahnya, Empat Saksi Kasus Pemerkosaan Ayah Terhadap Anak di Buleleng

Kata Arist, kejahatan seksual terhadap anak merupakan kejahatan kemanusiaan.

Arist menyebut, peristiwa semacam ini tidak boleh lagi terjadi. Ia mengajak semua komponen masyarakat Buleleng untuk menyelamatkan anak-anak dari predator kejahatan seksual.

"Gunakan komitmen kasus kejahatan seksual harus diberantas dengan pendekatan yang berkeadilan," katanya. (*)

Kumpulan Artikel Buleleng

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved