Berita Budaya

Renungan Apara Vidya, Ilmu Tentang Keduniawian

Demikian diungkapkan Guru Mangku Hipno, dosen sekaligus praktis hipnoterapi ini kepada Tribun Bali, Senin 25 April 2022.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Harun Ar Rasyid
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Guru Mangku Hipno saat tapping Bali Sekala Niskala Tribun Bali, yang akan tayang Rabu 19 Januari 2022 pukul 18.00 WITA. Saksikanlah di YouTube Tribun Bali. 

Pikirannya terlalu disempitkan untuk diajak menemukan solusi. Seolah ingin memenangkan dan menguasai setiap perdebatan hanya demi ke-akuannya.

Egosentrisme seringkali membuat seseorang juga bertanya hanya iseng, alias sekadar menguji dan berambisi menjebak orang lainnya untuk terlihat bodoh.

Saat bertanya, biasanya ia sendiri sebenarnya sudah memiliki jawaban khusus sesuai kebenaran versinya sendiri.

"Sama seperti narsisme, seseorang yang memiliki sifat egosentrisme beranggapan bahwa dirinyalah pusat perhatian dan hanya pendapatnya sajalah yang penting," ucap dosen yang juga ahli metafisika ini.

Celakanya, orang yang terjangkit narsisme menikmati setiap logical falacy (kesalahan yang ia buat sendiri dan menganggap orang lain tidak punya kepintaran untuk menganalisa).

Baca juga: Lowongan Kerja Bali, Dibuka Loker untuk Posisi Beauty Advisor, Usia Maksimal 28 Tahun

Baca juga: Lowongan Kerja Bali, PT Fajar Lestari Sejati Buka Loker untuk Posisi Marketing, Begini Syaratnya

Baca juga: RAMALAN ZODIAK KEUANGAN Selasa 26 April 2022, Keuangan Taurus Stabil

Lanjutnya, perlu diketahui bahwa manusia adalah zoonpoliticon, mahluk sosial tetapi juga mahluk individu.

Sehingga dalam pergaulan sosial, saling mengkritisi dan berdiskusi adalah penting untuk menemukan solusi.

"Tetapi biasanya orang yang ego, akan menghindari perdebatan untuk mencari menang kalah. Dan cenderung memaksakan kehendaknya," tutur GMH.

Salah satu ciri mereka yang tidak terpapar egosentrisme dan tidak terjangkit narsisme adalah memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan.

Untuk itu GMH selalu mengingatkan, agar manusia mawas diri dan terus introspeksi diri. Sehingga sifat ego tidak mendarah daging di dalam diri. Merusak mental, moral, dan bahkan menyebabkan penyakit hati. (ask)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved