Berita Buleleng

Deposan Tuntut Kejari Buleleng Percepat Penyidikan Kasus Korupsi LPD Anturan

Deposan Tuntut Kejari Buleleng Percepat Penyidikan Kasus Korupsi LPD Anturan

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Deposan LPD Anturan saat mendatangi kantor Kejari Buleleng, Rabu (27/4) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Belasan deposan LPD Anturan, mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Buleleng, Rabu 27 April 2022.

Mereka menanyakan terkait perkembangan kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh tersangka Nyoman Wirawan selaku Ketua LPD Anturan.

Sejumlah Deposan LPD Anturan datang sekitar pukul 09.30 Wita. Mereka datang dengan membawa spanduk bertuliskan 'Paguyuban Deposan menuntut sudah dua tahun lebih hak-hak kami terabaikan di LPD Desa Adat Anturan tolong dipercepat proses hukum di Kejari Buleleng'.

Kedatangan belasan Deposan ini diawasi ketat sejumlah petugas kepolisian dari Polsek Kota Singaraja. Kedatangan mereka diterima oleh Kasi Intel Kejari Buleleng, AA Jayalantara, serta Kasi Pidsus Kejari Buleleng Wayan Genip.

Ditemui seusai pertemuan, Korlap Deposan LPD Anturan, Ketut Yasa mengatakan, pihaknya ingin agar proses hukum kasus dugaan korupsi ini dipercepat, sehingga tersangka dapat segera dilakukan penahanan.

Dengan demikian, LPD bisa membentuk pengurus yang baru, dan uang tabungan para nasabah dapat segera dikembalikan.

Ketut Yasa menyebut, dalam rapat paruman yang diselenggarakan bersama prajuru Desa Adat Anturan, pihaknya telah mendorong agar segera dibentuk pengurus LPD yang baru. Namun hingga saat ini permintaan para deposan itu tak kunjung direalisasikan.

Bahkan menurut pemantauan yang dilakukan oleh para deposan, pengurus LPD Anturan kata Ketut Yasa, masih melakukan aktivitas memungut tagihan kepada para debitur. Namun anehnya, kantor LPD Anturan masih tetap tutup, saat kasus dugaan korupsi itu dibidik oleh Kejari Buleleng.

"Kami masih mencari jalan, bagaimana caranya agar pengurus yang baru bisa segera dibentuk, sehingga uang kami bisa segera dikembalikan oleh pengurus yang baru. Saya nabung di LPD Anturan sejak Desember 2019, jumlahnya tidak banyak. Namun saya merasa dirugikan karena sampai saat ini saya tidak bisa menarik tabungan," ucapnya.

Baca juga: SHIO yang Punya Insting Kuat & Peka, Shio Kambing Sensitif, Shio Ayam Selalu Waspada

Baca juga: Sanggar Rare Angon Sejati Adakan Festival Cover Lagu Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Baca juga: Kediamannya Ludes Terbakar, Wayan Sutresna Khawatir Sang Cucu Tidur di Dalam Rumah

Ketut Yasa juga mengungkapkan, ia bahkan sempat diancam akan dibunuh oleh salah satu prajuru Desa Adat Anturan.

Ancaman itu ia dapatkan karena pria asal Desa Penarukan, Kecamatan Buleleng ini menggerakkan sejumlah deposan untuk mendatangi Kejari Buleleng hingga Kejati Bali.

Ancaman itu didapatkan oleh Ketut Yasa pada awal Januari lalu. Merasa tidak aman, Ketut Yasa lantas telah melaporkan hal tersebut ke Polres Buleleng pada Februari lalu.

"Saat ini polisi masih melakukan gelar perkara, dan mencari saksi ahli. Saya akan ke Polres lagi untuk menanyakan tindak lanjutnya," ungkapnya.

Sementara salah satu nasabah LPD Anturan bernama Putu Sudani (53) mengatakan, ia memiliki tabungan di LPD tersebut sebesar Rp 400 juta.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved