Berita Bali

JANGAN Bakar Jerami, Bisa Jadi Pupuk Kompos Untuk Petani di Bali

Padahal kegiatan tersebut, membuat tiap Subak di Bali kehilangan bahan baku kompos hingga puluhan ton saat musim panen padi.

Pixabay
jerami 

TRIBUN-BALI.COM - Kegiatan membakar jerami, khususnya setelah musim panen padi

Nampaknya masih sering terjadi di Denpasar, dan umumnya di Bali. 

Padahal kegiatan tersebut, membuat tiap Subak di Bali kehilangan bahan baku kompos hingga puluhan ton saat musim panen padi.

Kehilangan bahan baku kompos ini, disebabkan kebiasaan petani yang cenderung membakar jerami padi.

Yang biasanya dihasilkan setelah panen, dibandingkan mengolahnya menjadi kompos.

Baca juga: BAKAR Jerami, Bikin SUBAK Kehilangan Puluhan Ton Bahan Kompos Tiap Musim Panen Padi

Petani umumnya membakar jerami, untuk mempermudah pengolahan tanah guna mengejar masa tanam berikutnya.

“Rata-rata dalam satu hektar tanaman padi menghasilkan 10-15 ton jerami, artinya setiap produksi 1 Kg gabah juga ada produk sampingan berupa jerami sebanyak 1-1,5 Kg," kata Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si.

Berdasarkan survei, 30,34 persen petani cenderung membakar jerami yang dihasilkan.

Muliarta saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan penyuluhan, dan pendampingan pembuatan kompos jerami padi di Subak Telun Ayah, Tegalalang, Gianyar Senin 16 Mei 2022 menjelaskan ini. 

Baca juga: BAKAR Jerami, Bikin SUBAK Kehilangan Puluhan Ton Bahan Kompos Tiap Musim Panen Padi

Menurut Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali periode 2014-2017 itu, terdapat pula petani yang membakar jerami karena berdasarkan pengetahuan yang didapatkan.

Bahwa abu pembakaran jerami padi ini, dapat bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Beberapa teori menyebutkan, bahwa pembakaran jerami padi merupakan salah satu awal penerapan pertanian organik yang berasal dari pengalaman petani.

Padahal penelitian terbaru, menyatakan bahwa pembakaran jerami sangat kurang efektif karena dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikrobia tanah.

Dengan membakar jerami padi dapat kehilangan unsur N hingga 80 persen, P hingga 25 persen, K hingga 21 persen dan S mencapai 4-60 persen, serta kehilangan bahan organik tanah.

Baca juga: Dinas Pertanian Denpasar Antisipasi Gabah Dijual ke Luar Denpasar, Berikan Bantuan Benih Padi 500 Ha

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Berita Terkait :#Berita Bali
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved