Ngopi Santai

RENUNGAN JIWA - Ikuti Passion Anda, dan Betulkah Sukses Akan Mengikuti?

Berangkat dari peryataan Jobs itu, muncul ungkapan “follow your passion, and success will follow you”.

Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Betulkah mengikuti passion akan mengantar pada kesuksesan? 

Mengetahui suatu pekerjaan sebagai panggilan hidup bukanlah perkara mudah. Butuh proses yang bisa cukup panjang dan berliku-liku untuk sampai pada kesimpulan, sehingga seseorang bisa merasakan "inilah ternyata pekerjaan yang jadi panggilan hidup saya".

Baca juga: Kesetrum Vibrasi Energi Pak Kyai

Baca juga: Informasi yang Bercahaya

Steve Jobs sendiri tidak menguraikan dengan jelas apa yang dia maksud sebagai passion.

Namun, akibat sihir pidato Jobs tersebut, ada pekerja yang merasa tidak cocok dengan pekerjaannya selama ini yang sebetulnya sesuai ijazah pendidikan formalnya, lantas keluar kerja untuk mencari pekerjaan lain yang dianggapnya cocok dengan passion-nya.

Dalam sejumlah kasus yang diteliti oleh Cal Newport, sebagaimana ditulis dalam bukunya Don’t Follow Your Passion, It’s a Trap, pilihan keluar kerja demi mengejar passion itu justru blunder, sebuah kesalahan besar.

Bahkan, demi mengejar kerja yang dianggapnya sesuai passion itu, seseorang malah bisa saja terjerumus ke dalam jebakan gonta-ganti pekerjaan yang berujung frustrasi.

Cal Newport mengakui bagus apabila kita menyukai apa yang kita kerjakan. Namun, pertanyaan pentingnya: bagaimana cara menemukan pekerjaan yang akhirnya kita cintai? Apakah seseorang harus mengeksplorasi atau menjelajahi sekian macam bidang dengan gonta-ganti pekerjaan dulu, dan barulah menemukan pekerjaan sesuai passion-nya?

“Itu saran yang buruk,” tandas Cal Newport, yang guru besar ilmu komputer di Georgetown University.

Jika harus gonta-ganti pekerjaan dulu demi menemukan pekerjaan yang sesuai passion, maka ”alangkah kasihan dan menderita para pekerja yang dianggap memilih ‘jalur aman’ dengan tetap menjalani bidang pekerjaan sama selama bertahun-tahun,” begitu menurut Newport.

Padahal, lanjut Newport, faktanya tidak selalu demikian, bahkan boleh jadi lebih banyak yang tidak demikian.

Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi

Baca juga: Malam Gulita Jiwa

Mengutip biografi Steve Jobs yang ditulis Jeffrey S. Young, Newport mengungkapkan fakta bahwa Jobs sendiri justru tidak memiliki visi sama sekali di bidang teknologi dan entrepreneurship ketika merintis perusahaan Apple Computer bersama Steve Wozniak.

Jobs sama sekali tidak tertarik pada bisnis dan elektronika.

Sebagai mahasiswa perguruan tinggi bergengsi bidang seni, yakni Reed College, Jobs justru suka mempelajari sejarah, tarian, meditasi, dan spiritualitas Timur.

Temuan dalam penelitian terhadap orang-orang ternama yang dianggap publik memiliki prestasi di bidang pekerjaan yang sesuai passion-nya, kata Newport, juga menguak bahwa masa awal kerja mereka di bidang itu justru dijalaninya dengan rumit. Bukan mudah dan langsung mencintainya.

“Meskipun di kemudian hari banyak orang menyebut saya kini ahli dan unggul di bidang yang mereka sebut sebagai `sesuai dengan passion`, awalnya saya justru memaksa diri untuk bekerja di bidang itu. Itulah fase terberatnya. Membutuhkan kesabaran,” demikian kira-kira saya bayangkan pernyataan mereka.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved