KKN Desa Penari
KKN Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Dosen Budaya UI Lemparkan Kritik!
Sungguh pencapaian fantastis, karena film KKN di Desa Penari berhasil tembus 8 juta penonton.Pemeran Nur, Tissa Biani pun, mengungkapkan rasa terim
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Sungguh pencapaian fantastis, karena film KKN di Desa Penari berhasil tembus 8 juta penonton.
Pemeran Nur, Tissa Biani pun, mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Sejak mengudara di bioskop, film KKN di Desa Penari langsung booming dan menjadi buah bibir banyak orang.

Film tersebut termasuk meledak, hingga didapuk sebagai film horor Indonesia terlaris sepanjang masa.
Hingga Senin, 23 Mei 2022, film KKN di Desa Penari telah menembus lebih dari 7,7 juta penonton.
Aktris Tissa Biani pun, mengutarakan rasa terima kasih kepada para pemirsa.
Hal tersebut diungkap Tissa Biani lewat unggahan sebuah poster di akun Instagram miliknya.
Baca juga: VIRAL! Menteri Erick Thohir Ikut Cari Tahu Lokasi KKN Desa Penari
Dari poster yang diunggah, tercatat sudah lebih dari 7.777.777 orang telah menonton KKN di Desa Penari.
"Alhamdulillah.. terimakasih semuanya! Sedikit lagi menuju 8 juta," tulis Tissa Biani dalam keterangan.
Ia juga bertanya kepada penggemarnya soal apa yang mesti dilakukan jika penonton telah mencapai 8 juta nanti.
"Kita bikin apa nih kalo udah sampe 8 juta?" imbuh Tissa.

Unggahan Tissa Biani lantas banjir pujian, dari warganet dan rekan sesama selebritas.
Baca juga: TIKET Cepat Habis, Film KKN Desa Penari di Denpasar Laris Manis
Sebagai informasi, Tissa sendiri terlibat dalam film KKN di Desa Penari sebagai aktris.
Ia memerankan tokoh bernama Nur, salah satu mahasiswa yang KKN di sebuah desa terpencil.
Film KKN di Desa Penari sendiri awalnya merupakan kisah yang ditulis oleh akun Twitter SimpleMan.
Kisah tersebut sempat viral pada tahun 2019, dan diterbitkan dalam bentuk novel.
Setelah itu, film KKN di Desa Penari pun dibuat, tayang di bioskop Indonesia mulai 30 April 2022.
Meski sempat lama tertunda penayangannya, KKN di Desa Penari saat ini menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Enam mahasiswa yang melaksanakan KKN di sebuah desa terpencil, Nur (Tissa Biani), Widya (Adinda Thomas), Ayu (Aghniny Haque), Bima (Achmad Megantara), Anton (Calvin Jeremy), dan Wahyu (Fajar Nugraha) tidak pernah menyangka kalau desa yang mereka pilih ternyata bukanlah desa biasa.
Pak Prabu (Kiki Narendra), sang kepala desa, memperingatkan mereka untuk tidak melewati batas gapura terlarang.
Satu per satu dari mereka mulai merasakan keanehan desa tersebut.
Bima pun mulai berubah sikap dan program KKN mereka berantakan.
Tampaknya, penghuni gaib desa tersebut tidak menyukai mereka.
Nur akhirnya menemukan fakta bahwa salah satu dari mereka melanggar aturan yang paling fatal di desa tersebut.
Teror sosok penari misterius semakin menyeramkan.
Mereka meminta bantuan Mbah Buyut yang merupakan dukun setempat.
Sayangnya, mereka terancam tidak bisa pulang dengan selamat dari desa yang dikenal dengan sebutan Desa Penari tersebut.
KRITIK DOSEN UNUD
Film KKN Desa Penari tampil perdana di bioskop, pada hari sabtu tanggal 30 April 2022.
Pada awal perilisannya, film ini sukses menarik perhatian warga Tanah Air.
Terutama bagi pecinta film bergenre horor, jutaan tiket laku terjual.
Film ini sukses menjadi film nasional terlaris 2022, dengan jumlah penonton meledak hingga 7 juta orang dalam kurun waktu belum sampai satu bulan setelah tayang perdananya di layar perak.

Mulanya film ini akan tayang perdana pada Maret tahun 2020.
Namun karena adanya pandemi Covid-19, penayangan film ini pun mengalami penundaan hingga 2 tahun.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Lily Tjahjandari, Ph.D menuturkan awal mula film dan cerita ini bermula dari thread viral di Twitter yang ditulis oleh akun @SimpleM81378523 pada tahun 2019 lalu, kemudian dibuat film layar lebar berdasar dari tulisan akun tersebut.
Kisah KKN Desa Penari baik akun Twitter maupun film layar lebarnya menceritakan tentang sekelompok mahasiswa yang melaksanakan kegiatan wajib perguruan tinggi pada jamannya yakni Kuliah Kerja Nyata ke desa.
Program positif itu bertujuan agar para mahasiswa bergerak membantu masyarakat dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya di perguruan tinggi.
Baca juga: KKN Desa Penari, Benarkah Ini Lokasi Aslinya?
Para mahasiswa diharapkan juga dapat belajar kehidupan sebelum mereka lulus dan terjun ke masyarakat.
Alkisah kelompok mahasiswa ini melaksanakan KKN di suatu desa bernama Desa Penari di Jawa Timur.
Kemudian mereka diganggu oleh hal-hal mistik negatif yang direpresentasikan berupa seorang penari kesenian lokal.
Dan hal itu menimbulkan korban serta trauma mendalam, sekaligus menggagalkan program KKN mereka.

Menurut Lily, yang kemudian menjadi masalah bahwa tanpa disadari sejak dulu cerita-cerita sekitar kesenian dan kebudayaan nasional sering dibungkus berada di pihak antagonis, bagian negatif suatu kisah.
"Sesuatu yang harus dijauhi.
Sesuatu yang harus dihancurkan.
Karena ia adalah musuh kita bersama.
Seolah kita ingin menancapkan di alam bawah sadar, para generasi muda bangsa bahwa seni budaya peninggalan nenek moyang kita adalah budaya yang jahat, buruk, dan sudah sepantasnya kita tinggalkan," ungkap Lily dalam keterangannya kepada Tribun Bali, Minggu 29 Mei 2022 malam.
Ia mengajak flasback ke kisah-kisah film nasional tahun 70-an hingga 90-an, di mana seni budaya nasional direpresentasikan oleh tokoh para dukun jahat yang menggunakan atribut-atribut seperti pakaian, mantera dan peralatan lokal.
"Mereka akhirnya harus berhadapan dan dikalahkan oleh tokoh-tokoh ideal pelindung masyarakat semacam pahlawan impor berpakaian dan berujaran ala Timur Tengah," katanya.
Ternyata hal ini masih juga terjadi pada film-film dan karya sastra saat ini.

Budaya lokal hanya sebagai pelengkap penderita.
Pada era media cetak dahulu, kata Lily, tokoh semacam Datuk Meringgih, seorang pemberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda di Sumatera Barat dalam roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli seorang sastrawan masa penjajahan Belanda digambarkan sebagai manusia berperilaku sangat bejat.
"Akibatnya, semua pembaca sangat membenci dia (Datuk Meringgih) dan berpihak kepada Samsul Bahri yang notabene adalah anggota pasukan Kerajaan Belanda penumpas pejuang kemerdekaan kita," ucapnya.
Akhirnya tokoh Datuk Meringgih harus tewas di tangan perwira Samsul Bahri, dalam suatu perang pemberontakan perkara pajak dan para pembaca tentu senang.
Berbanding terbalik apabila menonton film-film, video atau karya sastra negara lain.
"Drakornya Korea, film Jepang atau India selalu menyisipkan pesan akan kebesaran dan kebanggaan mereka pada tanah air, seni dan budayanya sendiri," ungkapnya.
Baca juga: Sutradara Tak Sangka Film KKN Di Desa Penari Dapat Sambutan Baik, Raih 7 Juta Penoton Dalam 19 Hari
Sebagai contoh, film-film tentang kejayaan para Samurai dari Akira Kurosawa, Mahabarata, aneka film Shah Rukh Khan dengan kebanggaan pada Irama dan kejayaan tarian lokal India.
Juga trend film di Hollywood. Sedari dulu mereka sudah mempunyai pesan-pesan kejayaan supremasi kulit putih dan legenda leluhur mereka.
Seperti film-film yang menampilkan kisah Thor, Odin, Romawi, Troya, Cowboy, Mafia.
"Lha wong negara seperti Austria saja sebagai pusat Nazi Jerman pernah mencuci negara mereka dengan film The Sound of Music pada tahun 70-an," tuturnya.
Semua itu menggugah jiwa penontonnya untuk lebih mencintai sejarah dan seni budaya leluhurnya.
Betapa agungnya leluhur mereka dan betapa gagah dan besarnya bangsa mereka di waktu lampau.
"Padahal kita punya sejarah dan seni budaya yang bukan kaleng-kaleng dan jika diolah dengan script, tata artistik dan teknik sinematografi yang baik akan kembali bergelora semangat bangsa yang besar, seperti Salaka Nagara, Kutai Kartanegara, Majapahit, Sriwijaya, Mataram," paparnya.
Di era multimedia ini, di mana para generasi muda bangsa lebih tertarik melihat karya fiksi dalam bentuk film dan video, maka sudah selayaknya sebagai insan kreatif turut melindungi seni budaya nasional.
"Mari kita buat film nasional yang betul-betul membuat Kebangkitan Nasional bukan hanya dari jumlah penonton dan kesuksesan bisnis namun juga menanamkan kebanggaan generasi muda kita akan seni budaya leluhur mereka," pungkasnya. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul Film KKN di Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Tissa Biani: 'Kita Bikin Apa Nih Kalau Udah?'