Berita Bali

Konten 'Bali Lawas' Merebak di Media Sosial, Disbud Provinsi Bali Beri Tanggapan 

Konten tersebut mulai beredar 4 hari belakangan ini, di sosial media khususnya Instagram. Konten 'Bali Lawas', bercerita mengenai gaya busana masyar

Ida Bagus Putu Mahendra
Wawancara dengan Kadek Wahyudita di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Selasa 31 Mei 2022 dan Tangkapan Layar Konten “Bali Lawas” 

 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tren 'Bali Lawas' merebak di jagat maya.


Konten tersebut mulai beredar 4 hari belakangan ini, di sosial media khususnya Instagram.


Konten 'Bali Lawas', bercerita mengenai gaya busana masyarakat Bali tempo dulu.

Baca juga: KKN Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Dosen Budaya UI Lemparkan Kritik!


Viralnya konten tersebut, nampaknya disalahartikan oleh beberapa pihak.

 

Beberapa hari lalu, beredar konten 'Bali Lawas' dengan gambaran seorang perempuan yang minim penutup dada.


Penulis mengirimkan tangkapan layar salah satu konten 'Bali Lawas' kepada Dayu Diastini (55).

Selaku Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Baca juga: PRESIDEN JOKOWI : Pandemi Melandai Harap Aktivitas Seni Budaya Kembali Bangkit


Dayu Diastini menuturkan, bahwa pembuatan konten tersebut sah - sah saja.


“Begini nggih kalau soal konten itu sah - sah saja.

Tapi kalau dia mengatasnamakan konten lawas, tetapi dilakukan sekarang dengan proses vulgar, bagi saya itu salah,” jelasnya. 

Baca juga: Parade Seni Budaya, Berikut Rencana Gabungan Organisasi Kemahasiswaan UPMI  


“Karena kalau payasan orang zaman dulu sekitar tahun 1928.

Masyarakat Bali memang berpakaian sekadarnya, karena memang kondisi zaman itu berbeda,” jelasnya saat dihubungi Tribun Bali via telepon pada Selasa 31 Mei 2022.


Lebih lanjut, Dayu Diastini menilai konten tersebut, hanya sekadar mencari sensasi semata.

Baca juga: KKN Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Dosen Budaya UI Lemparkan Kritik!


Dinas Kebudayaan tidak memiliki wewenang dalam rangka konten - konten yang beredar, di media sosial meskipun itu terakit dengan budaya.


Dayu Diastini menjelaskan, bahwa Dinas Kebudayaan hanya dapat mengedukasi masyarakat soal busana dan payasan adat Bali yang disesuaikan dengan desa, kala, patra yaitu wali, bebali, balih - balihan.

Baca juga: PRESIDEN JOKOWI : Pandemi Melandai Harap Aktivitas Seni Budaya Kembali Bangkit


Ditemui di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kadek Wahyudita (37), selaku pengamat budaya dan juga pimpinan Rumah Budaya Penggak Men Mersi, mengatakan bahwa setiap peradaban membawa etikanya masing - masing. 


“Di era lampau kan memang kehidupan sosionya sudah seperti itu, dan adab masyarakat masih terjaga,” katanya. 


“Dan hari ini kan semua kepentingan menunjukan, hal - hal seperti itu dalam rangka viral dan ada kebutuhan ekonomi di sana,” jelas Kadek Wahyudita.

Baca juga: PRESIDEN JOKOWI : Pandemi Melandai Harap Aktivitas Seni Budaya Kembali Bangkit


Lebih lanjut, pria yang juga sebagai tim kreatif Pesta Kesenian Bali tersebut, menjelaskan bahwa terdapat kepentingan lain dalam konten 'Bali Lawas' tersebut.


“Iya, mungkin luarannya dia katakan sebagai nostalgia.

Tetapi ada sisi - sisi lain yang ingin dia harapkan.

Ada kepentingan sudah masuk di sana.

Bukan sebagai nature dari budaya hari ini,” jelasnya. 


“Inilah yang namanya budaya kontemporer, yang namanya budaya modern, dampak dari kapitalisme dan lain - lain yang membawa kita jauh akhirnya dari sisi - sisi spiritual, sisi adab, dan sisi norma,” ujar Kadek Wahyudita.


Lebih lanjut, Kadek Wahyudita berharap, agar generasi muda bali bisa tetap menjaga norma - norma yang ada.

Agar nanti karya seni yang dibuat oleh pembuat konten tidak dianggap sebagai sesuatu yang negatif.

Baca juga: KKN Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Dosen Budaya UI Lemparkan Kritik!


Saat dikonfirmasi kepada pembuat konten, memang dirinya membenarkan telah membuat konten tersebut. 


Lebih lanjut, dirinya mengaku iseng untuk membuat konsep tempo dulu untuk sampel dicetak. 


Saat tulisan ini dibuat, penulis belum mendapat jawaban apakah konten tersebut hanya untuk nostalgia dan pelestarian atau untuk kepentingan bisnis semata.(*) 

 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved