Berita Buleleng

268 Ekor Sapi di Buleleng Terjangkit PMK, Tingkat Kematian Masih Nol Persen

Hingga saat ini total ada 268 ekor sapi di Buleleng yang terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sapi-sapi itu tersebar di enam desa yang ada di Keca

ist
268 Ekor Sapi di Buleleng Terjangkit PMK, Tingkat Kematian Masih Nol Persen 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Hingga saat ini total ada 268 ekor sapi di Buleleng yang terserang Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK). Sapi- sapi itu tersebar di enam desa yang ada di Kecamatan Seririt, dan Gerokgak.

Pemkab Buleleng pun saat ini telah membentuk Satgas Penanganan PMK, untuk melakukan pencegahan agar PMK tidak meluas.

Sekda Buleleng Gede Suyasa ditemui usai menggelar rapat penanganan PMK pada Kamis7 Juli 2022 mengatakan, pemerintah pusat telah memberikan vaksin PMK untuk Buleleng sebanyak 1.700 dosis.

268 Ekor Sapi di Buleleng Terjangkit PMK, Tingkat Kematian Masih Nol Persen
268 Ekor Sapi di Buleleng Terjangkit PMK, Tingkat Kematian Masih Nol Persen (ist)

Vaksin itu mulai disuntikan kepada sapi- sapi sehat yang ada di enam daerah kasus. Selain vaksin, petugas juga memberikan vitamin dan melakukan sterilisasi kandang dengan penyemprotan cairan desinfektan.

Suyasa menyebut, dari 268 ekor sapi yang terjangkit PMK, 24 ekor diantaranya telah dipotong bersyarat. Artinya, sapi- sapi itu telah disembelih, dan dagingnya tetap dapat dijual oleh petani. Sementara sisanya belum ada yang mati. Sehingga Pemkab kata Suyasa masih melakukan pertimbangan, terkait pemberian ganti rugi.

"Kalau dipotong bersyarat, dagingnya masih bisa dijual, kecuali tulang dan jeroannya. PMK tidak menular ke manusia. Saat ini tingkat kematian sapi yang terpapar PMK masih nol persen. Ini masih jadi pertimbangan kami bagaimana bila harus dilakukan pemotongan paksa dan sapinya harus dikubur," jelasnya.

Disinggung terkait penjualan sapi jelang Idul Adha, Suyasa menegaskan masih dapat dilakukan oleh para petani. Asalkan, sapi yang dijual dipastikan tidak terpapar PMK, dan petugas pun nantinya akan melakukan pengecekan. Namun Suyasa mengaskan, sapi hanya dapat dijual oleh petani maupun pengepul di dalam daerah, atau hanya di Buleleng.

"Sapi yang hasil Labnya positif, tidak boleh keluar kandang. Kalau sapi yang masih sehat masih boleh dijual keluar. Penjualanya masih di sekitar Buleleng saja. Nanti hewan qurban harus dites, kalau sehat boleh dibawa keluar kandang untuk dijual," jelasnya.

Sementara Ketua Kelompok Ternak Simantri Nanindi Suara Desa Lokapaksa Komang Adnya Yasa mengatakan, meski saat ini PMK telah menyebar di desanya, namun harga sapi tidak mengalami penurunan. Bahkan jelang Idul Adha ini, Yasa menyebut harga sapi jantan usia 8 bulan justru meningkat menjadi Rp 8 juta per ekor, dari sebelumnya Rp 6.5 juta per ekor. Beberapa sapi jantannya pun kini telah dibeli oleh para pengepul.

Baca juga: Distan Denpasar Mulai Gelar Vaksinasi PMK, Sasar 628 Sapi, Peternak Jual Sapi di Kandang

Dengan adanya PMK ini, Yasa mengaku dirinya sempat merasa takut. Ia khawatir 21 ekor sapi peliharaannya akan mati. Namun mengingat saat ini Dinas Pertanian telah menyuntikan vaksin, Yasa pun bisa sedikit bernafas lega.

"Dinas Pertanian sudah menyuntikan vaksin, dan memberikan cairan desinfektan. Jadi mudah-mudahan PMK tidak menular ke sapi- sapi saya. Astungkara meski saat ini sedang ada PMK penjualan tidak ada kendala. Pengepul tetap datang untuk membeli. Sapinya hanya dijual di daerah Buleleng," terangnya. (rtu)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved