15 Ribu Bibit Ikan Nila Ditebar di Sawah Desa Bengkel Buleleng

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng mengembangan sistem mina padi di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng.

istimewa
Pengembangan program mina padi di Desa Bengkel 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng mengembangan sistem mina padi di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng.

Sebanyak 15.000 ekor bibit ikan nila telah ditebar di areal persawahan milik Kelompok Petani Tirta Amerta, dengan luas sekitar 40 are.

Kepala DKPP Buleleng, Gede Putra Aryana mengatakan, Desa Bengkel dipilih untuk pengembangan program mina padi ini lantaran sistem irigasinya masih bagus.

Ikan-ikan yang ditebar nantinya dapat dipanen dalam kurun waktu lima bulan kedepan.

Pengembangan program mina padi di Desa Bengkel
Pengembangan program mina padi di Desa Bengkel (istimewa)

Ikan tersebut dapat dikonsumsi oleh pemilik lahan, atau bahkan dijual dan diolah sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi.

"Harapan kami dengan adanya mina pasi ini, bisa menjadi penunjang ekonomi keluarga melalui kelompok pembudidaya. Ada swasembada pangan, ketika harga panen jatuh," katanya.

Aryana menyebut, program mina padi ini juga dapat meningkatkan hasil panen.

Hal ini terlihat dari program mina padi yang dikembangkan oleh pihaknya di Desa Subuk, Kecamatan Busungbiu pada 2021 lalu. Dimana, program tersebut dikembangkan dilahan seluas 50 are.

Saat memasuki musim panem, gabah yang dihasilkan mencapai 10 kwintal. Sementara sebelum adanya program mina padi ini, gabah yang didapatkan rata-rata hanya 8 kwintal.

"Lahan 50 are itu sudah dibagi untuk kolam ikan nila juga, tapi gabah yang dihasilkan lebih banyak ketimbang saat belum mengembagkan program mina padu ini.

Meningkatnya hasil panen ini terjadi karena kesuburan sawah bertambah berkat kotoran ikan nila," ucapnya.

Terkait hasil ikan nila dari program mina padi ini, Aryana berharap kelompok petani bisa bekerjasama dengan BUMDes di desa setempat, untuk memasarkan hasilnya.

Ikan dapat dijual saat masih segar atau sudah dibekukan, serta dijual dalam bentuk olahan seperti dendeng.

"Harga yang dijual lewat BUMDes bisa bersaing dengan harga dipasaran. Misalnya dipasar Rp 28 ribu per kilo, BUMDes bisa jual dengan harga yang tidak jauh dari itu. Atau kalau tidak mau dijual, ikannya bisa dikonsumsi sendiri oleh petani tanpa perlu membeli," terangnya.

Selain di Desa Bengkel, mina padi juga telah dikembangkan di beberapa desa lainnya, seperti Desa Panji dengan luas lahan sekitar satu hektar, dan Desa Subuk dengan luas lahan 50 are.

Sementara untuk desa-desa lainnya yang memiliki potensi untik pengembangan mina padi,, kata Aryana juga akan dilakukan secara bertahap.

"Anggarannya terbatas, jadi desa lain yang memiliki potensi seperti saluran irigasinya masih bagus, akan kembangkan secara bertahap," tandasnya. (rtu)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved