Berita Bangli

KISAH PILU GUSTI AYU, PMI Asal Bangli Sakit di Turki, Jarang Makan dan Gaji Tidak Sesuai Janji

Gusti Ayu Vira merasakan kisah pilu, tatkala harus bekerja ke Negara Turki. Ia menjadi PMI sakit di Turki, karena makan tidak teratur, hendak ke Bali.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Saudara Gusti Ayu Vira- Gusti Ayu merasakan kisah pilu, tatkala harus bekerja ke Negara Turki. Ia menjadi PMI sakit di Turki, karena makan tidak teratur, hendak ke Bali. 

Setelah menunggu cukup lama, Gusti Ayu akhirnya mendapat kabar akan diberangkatkan pada bulan April.

Ia segera melakukan resign, dan menandatangani kontrak.

Ilustrasi pijat relaksasi - Gusti Ayu sempat diiming-imingi mendapatkan gaji besar, agar bisa membayar utang dan biaya pengobatan ayahnya.

Hingga akhirnya perempuan 23 tahun itu tergiur mengikuti pelatihan.

Setelah lima bulan mengikuti pelatihan, pada bulan Oktober ayah Gusti Ayu akhirnya meninggal dunia.

Saat itu dia sempat berniat mengurungkan niat berangkat ke Turki, karena merasa depresi dan frustasi akan keadaan.

Namun pemilik pelatihan SPA tidak membiarkannya batal, dengan alasan tidak ada yang membiayai ibu dan adiknya serta tidak ada yang membayar utang.

Oleh sebab itu Gusti Ayu tetap melanjutkan pelatihan.

Setelah menunggu cukup lama, Gusti Ayu akhirnya mendapat kabar akan diberangkatkan pada bulan April.

Ia segera melakukan resign, dan menandatangani kontrak.
Ilustrasi pijat relaksasi - Gusti Ayu sempat diiming-imingi mendapatkan gaji besar, agar bisa membayar utang dan biaya pengobatan ayahnya. Hingga akhirnya perempuan 23 tahun itu tergiur mengikuti pelatihan. Setelah lima bulan mengikuti pelatihan, pada bulan Oktober ayah Gusti Ayu akhirnya meninggal dunia. Saat itu dia sempat berniat mengurungkan niat berangkat ke Turki, karena merasa depresi dan frustasi akan keadaan. Namun pemilik pelatihan SPA tidak membiarkannya batal, dengan alasan tidak ada yang membiayai ibu dan adiknya serta tidak ada yang membayar utang. Oleh sebab itu Gusti Ayu tetap melanjutkan pelatihan. Setelah menunggu cukup lama, Gusti Ayu akhirnya mendapat kabar akan diberangkatkan pada bulan April. Ia segera melakukan resign, dan menandatangani kontrak. (Pexels)

Pada kontrak itu tertulis, Gusti Ayu akan mendapatkan gaji 7,155 Lira, yang pada saat itu harga 1 Lira yakni Rp. 1,700.

Sehingga total gajinya sekitar Rp 12.000.000, dengan jam kerja hanya 8 jam.

Dan untuk kamar tidur 1-4 orang saja, yang akhirnya membuat Gusti Ayu tergiur dan menandatangani kontrak.

Gusti Ayu kemudian mengurus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN), pertengahan bulan April.

Yang mana saat mengurus KTKLN, pemilik pelatihan SPA tidak mengizinkan Gusti Ayu menyebut nama atau alamat PT agent yang memberangkatkan, apabila ditanya oleh petugas.

Hal ini berbuah kegagalan dalam pengurusan KTKLN.

Namun keesokan harinya, pemilik SPA datang membantu Gusti Ayu dan mengaku jika Gusti Ayu adalah keponakannya yang ingin berangkat dan melakukan keberangkatan mandiri.

Hingga akhirnya terjadilah kesepakatan, di mana Gusti Ayu harus membayar Rp 1 juta untuk dilancarkan KTKLN-nya.

Gusti Ayu kemudian berangkat ke Negara Turki.

Di sana Gusti Ayu sempat bekerja di Hotel Lonicera.

Namun jam kerja tidak sesuai dengan kontrak, sebab Gusti Ayu harus berangkat ke hotel sejak jam 6 pagi dan pulang pukul 9 malam.

Gusti Ayu diberi waktu makan 15 menit, sedangkan keberadaan kantin atau tempat makan sangatlah jauh.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved