Berita Buleleng

Jaksa Temukan Fakta Baru, Tersangka Wirawan Berikan Kredit Tanpa Jaminan ke sejumlah Nasabah

Penyidik Kejaksaan Negeri Buleleng menemukan fakta baru, dari kasus dugaan korupsi yang dilakukan mantan Ketua LPD Anturan, Nyoman Arta Wirawan. Diman

Tribun Bali
Foto: Ratu Ayu Astri Desiani/ Kasi Intel Kejari Buleleng, AA Jayalantara 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Penyidik Kejaksaan Negeri Buleleng menemukan fakta baru, dari kasus dugaan korupsi yang dilakukan mantan Ketua LPD Anturan, Nyoman Arta Wirawan. Dimana, penyidik menemukan jika tersangka Wirawan selama ini memberikan kredit tanpa jaminan kepada sejumlah nasabahnya. 

Humas sekaligus Kasi Intel Kejari Buleleng, AA Jayalantara ditemui Senin (22/8) mengatakan, pihaknya menduga ada dana hingga Miliaran rupiah yang digunakan oleh tersangka Wirawan, untuk memberikan kredit kepada para nasabahnya, tanpa disertai  jaminan.

Dugaan ini pun akan diperdalam lagi oleh penyidik, dengan melakukan pemeriksaan kali kedua kepada tersangka Wirawan. Pemeriksaan rencananya  dilakukan dalam minggu ini, atau pekan depan. 

Jayalantara menyebut, dalam pemberian kredit, harusnya disertai dengan jaminan. Sebab apabila uang yang dipinjam tidak dapat dikembalikan oleh nasabah, pengurus bisa menyita lalu melelang jaminan tersebut, agar keuangan di LPD bisa berputar.

Jayalantara pun mengaku masih akan mendalami maksud dari tersangka Wirawan, yang nekat memberikan kredit tanpa jaminan kepada sejumlah nasabahnya itu. 

"Kami temukan ada daftar orang yang menerima kredit.  Jumlah dana yang digunakan untuk memberikan kredit tanpa jaminan ini mencapai Miliaran.

Kami akan minta kejelasan dari tersangka nanti. Tersangka nanti kami minta menunjukan siapa saja nasabah yang menerima kredit tanpa jaminan ini. Hal yang dilakukan oleh tersangka ini bisa menjadi temuan. Modus baru yang kami temukan dari kasus dugaan korupsi ini," terang Jayalantara.  

Baca juga: Pasar Hewan Beringkit Terancam Alami Kerugian Lebih Dari Rp 2 Miliar

Mengingat penyidik harus memeriksa kembali tersangka Wirawan, maka masa penahanannya diperpanjang selama 30 hari kedepan, terhitung sejak 20 Agustus kemarin. Selain itu, penyidik juga mengagendakan dalam minggu ini akan memeriksa dua saksi yang menguntungkan untuk tersangka Wirawan. 

"Dua saksi yang menguntungkan ini harusnya dibawa oleh pihak tersangka ke Kejari Buleleng. Tapi karena dua saksi ini tidak datang-datang, maka kami yang melakukan pemanggilan.  lakukan pemanggilan. Setelah itu penyidik akan melengkapi pemberkasan, untuk dilimpahkan ke JPU," jelasnya. 

Baca juga: Ops Gapura Agung VIII-2022, Libatkan 2.514 Personel Gabungan Polda Bali dan BKO Mabes Polri

Disinggung terkait barang bukti yang telah diamankan oleh penyidik saat ini, dikatakan Jayalantara berupa Sertifikat Hak Milik (SHM) sebanyak 46 lembar, atas nama milik tersangka Wirawan. 

Seperti diketahui, sertifikat itu diberikan oleh tersangka kepada nasabahnya, yang sebelumnya memiliki deposito di LPD Anturan. Namun karena nasabah tidak dapat menarik depositonya, maka tersangka Wirawan memberikan SHM tersebut sebagai kompensasi. 

Selain SHM, penyidik juga telah menerima pengembalian uang reward sebesar Rp 1.4 Miliar. Reward itu diberikan oleh tersangka kepada pengurus LPD, dari bisnis kavling tanah. Celakanya, pemberian reward ini tanpa persetujuan Bendesa Adat Anturan. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved