Berita Jembrana

Proyek Pembongkaran Atap SDN 4 Melaya Dikeluhkan, Guru dan Siswa Tak Bisa ke Kamar Mandi

Pengerjaan pembongkaran atap SDN 4 Melaya Jembrana dikeluhkan pihak sekolah dan komite.

Istimewa
Kondisi atap SDN 4 Melaya yang sudah dilakukan pembongkaran sejak 10 hari lalu, Senin 22 Agustus 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Pengerjaan pembongkaran atap SDN 4 Melaya Jembrana dikeluhkan pihak sekolah dan komite.

Pasalnya, proses pembongkaran yang sudah berjalan selama 10 hari lebih tak kunjung selesai.

Selain itu, bahan bangunan baja ringan justru dibiarkan berserakan di lantai.

Sehingga hal itu menyebabkan penghuni sekolah kesulitan mengakses kamar mandi dan ditakutkan membahayakan.

Komite berharap, proses pembongkaran berjalan maksimal dan segera rampung.

Baca juga: Warga Berlarian ke Luar Gedung, Masyarakat Jembrana Rasakan Kerasnya Gempa Bumi


Ketua Komite SDN 4 Melaya, Lukman mengungkapkan, sejak 10 harian lalu proses pembongkaran sudah dilakukan oleh pihak terkait.

Sejak saat itu, pembongkaran baru dilaksanakan di dua kelas di sisi timur dan itupun belum selesai. 

"Sebenarnya kita berharap cepat dilakukan pembongkaran. Tapi kami lihat hanya dua orang pekerja saja di sana yang bongkar," ungkap Lukman saat dikonfirmasi, Sebin 22 Agustus 2022. 


Dia melanjutkan, selain proses yang lambat, para guru dan siswa SDN 4 Melaya yang hendak menuju ke kamar mandi itu tidak bisa.

Baca juga: Sediakan Anggaran Rp5 Miliar, Kori Pemedalan Agung Jaganatha Jembrana Mulai Ditata

Itu disebabkan banyaknya besi yang berserakan di areal sekolah. Hal itu ditakutkan akan membahayakan penghuni sekolah. 


"Mereka gak berani ke kamar mandi. Mereka terpaksa pinjam kamar mandi ke tempat warga sementara," katanya. 


Menurutnya, dengan pengerahan pekerja proyek hanya dua orang saja akan memperlambat pekerjaan pembongkaran tersebut.

Jika saja personelnya ditambah, akan lebih cepat dan barang bekas bongkaran bisa dibereskan sehingga tak membahayakan.


"Besinya masih berserakan. Sehingga mereka gak berani lewat. Kami minta agar segera dibersihkan. Besinya ini yang lama karena, tukangnya cuma dua orang," 


Kami harap, kata dia, pengerjaan proyek pembongkaran ini bisa dilakukan dengan profesional. Sebab, jika tidak segera dibersihkan akan mebimbulkan hal tak diinginkan. 


"Semoga aja dibersihkan segera. Karena sekarang bongkaran besi dari atap sekolah itu kayak hutan," tandasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Berita Jembrana

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved