Berita Tabanan

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Kendaraan Listrik di Tabanan Sepi

Rencana kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) pertalite di harga Rp 10 ribu dan Solar Rp 8.500, pemerintah pusat mendorong masyarakat untuk penggunaan ken

(TB/Ardhiangga Ismayana).
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Listrik di Jalan Gajah Mada, Selasa 23 Agustus 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Rencana kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) pertalite di harga Rp 10 ribu dan Solar Rp 8.500, pemerintah pusat mendorong masyarakat untuk penggunaan kendaraan listrik.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan di Jakarta, beberapa hari lalu.

Dari penelusuran di daerah khususnya Tabanan, kendaraan listrik bukan menjadi pilihan utama masyarakat.

Terbukti, di salah satu stasiun pengisian ulang kendaraan listrik, masih terbilang sepi di Tabanan. Meskipun, dari konsumen yang menggunakan, bahwa untuk keiritan penggunaan, kendaraan listrik lebih unggul dibanding kendaraan pada umumnya.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Listrik di Jalan Gajah Mada, Selasa 23 Agustus 2022.
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Listrik di Jalan Gajah Mada, Selasa 23 Agustus 2022. ((TB/Ardhiangga Ismayana).)

Supervisor Pelayanan Pelanggan ULP PLN Tabanan, I Nyoman Agus Widyakusuma, mengatakan, bahwa pembangunan stasiun kendaraan listrik ini sudah sejak tiga bulan lalu. Dimana sejatinya, untuk support atau dukungan pada event G-20 mendatang. Dan sejak tiga bulan pendirian, hanya ada satu kendaraan listrik yang melakukan charging atau pengisian ulang daya listrik. Hingga saat ini, belum ada lagi kendaraan yang melakukan charging di stasiun yang terletak di Jalan Gajah Mada Delod Peken Tabana itu.

“Kendaraan listrik tidak bisa kami identifikasi berapa banyaknya. Soalnya, charging bisa di rumah masing-masing,” ucapnya, Selasa 23 Agustus 2022.

Menurut dia, pihaknya hanya Standby, dalam melakukan charging terhadap para pelanggan yang datang. Meskipun tidak selalu ada kendaraan yang akan mengisi ulang kendaraannya. Alasan lain, kemungkinan sepinya pengendara yang mengisi ulang ialah dikarenakan harga kendaraan listrik terutama mobil memang relatif mahal.

“Tapi sekarang, mungkin dengan disiapkan infrastruktur produsen kendaraan lebih bersaing. Dan nantinya masyarakat akan melirik kendaraan listrik,” jelasnya.

Untuk harga pengisian sendiri, sambungnya,

harga per kwh listrik itu sekitar Rp 2.466. Terkait dengan penggunaan bahan bakar dari kendaraan listrik sendiri, masih relatif irit dibanding kendaraan non-listrik atau kendaraan pada umumnya. Dan kapasitas serta penggunaannya sendiri untuk setiap kendaraan listrik berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi, akan spesifikasi mobil yang berbeda-beda dalam kapasitas baterainya. “Tapi kalau kata konsumen memang kendaraan listrik lebih irit dibandingkan kendaraan umum lainnya. Dan sebenarnya pembangunan ini adalah untuk Supporting pelaksanaan G-20 mendatang,” bebernya.

Sebelumnya, wacana dorongan penggunaan kendaraan listrik ini, menyusul adanya rencana kenaikan BBM. Namun, hal itu ditolak oleh beberapa komponen masyarakat. Salah satunya ialah seorang sopir angkutan umum Tabanan, Ketut Sukanadi. Sukanadi menyatakan, bahwa kendaraan angkutan umum sebaiknya tetap akan mendapat subsidi. Sebab, meskipun dirinya belum mendaftar di aplikasi MyPertamina, namun, dirinya berharap tidak terjadi kenaikan kepada transportasi umum. Dan hanya dikenakan pada kendaraan pribadi.

“Saya berharap untuk kendaraan angkut akan tetap mendapat subsidi. Kalau saya sendiri, kalau naik tidak akan mungkin bisa jalan (menarik penumpang),” ucapnya.

Menurut dia, kondisi saat ini, untuk muatan penumpang saja, paling sehari hanya satu hingga lima orang penumpang saja. Saat ini, banyak penumpang sudah beralih ke moda transportasi online. Dari trayek biasanya, yakni

Terminal Pesiapan-Kota Kediri-Pesiapan lagi, paling hanya membutuhkan lima liter. Namun, angkutan miliknya lebih banyak diamnya. Nah, ketika itu naik, tentu saja akan menyebabkan bengkaknya biaya kepada pelanggan. Ironisnya, saat ini pelanggan juga sepi karena beralih ke online.

“Paling hanya mereka (orang tua) yang tidak membawa handphone saja yang naik. Kalau sudah pakai handphone mana mau (naik angkutan umum/angkot),” ungkapnya. (ang).

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved