Wawancara Khusus

KASUS Pembunuhan Berencana Brigadir J, Ini Pendapat Mantan Kabareskrim Polri

Susno Duadji, mengatakan Presiden Joko Widodo berulang kali meminta kasus kematian mendiang Brigadir J agar dibuka ke publik secara transparan.

Istimewa
Mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji, mengatakan Presiden Joko Widodo berulang kali meminta kasus kematian mendiang Brigadir J dibuka transparan ke publik. 

Motif ini nantinya akan ditanya oleh hakim di persidangan, Kalau misalnya tidak ada alasan yang bisa meringankan seseorang melakukan tindak pidana, ini berarti orang ini kejam sekali. Justru sebaliknya menjadi hal yang memberatkan karena masalah sepele, pembunuhannya juga direncanakan. Hukumannya bisa hukuman mati.

Mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji,  mengatakan Presiden Joko Widodo berulang kali meminta kasus kematian mendiang Brigadir J dibuka transparan ke publik.



Menurutnya, dorongan dari Presiden Joko Widodo ini, tak lepas demi menjaga marwah dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.
Mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji, mengatakan Presiden Joko Widodo berulang kali meminta kasus kematian mendiang Brigadir J dibuka transparan ke publik. Menurutnya, dorongan dari Presiden Joko Widodo ini, tak lepas demi menjaga marwah dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. (Istimewa)

Sesuai pengalaman Pak Susno, sebetulnya apakah perlu visual TKP dan barang bukti disampaikan ke publik?

Jadi TKP di situ berawal suatu kejadian, dan semua polisi yang profesional harus mendatangi TKP untuk mengungkap kematian terutama jenazahnya. Dari TKP ini kita bisa menemukan senjata apa yang dipakai.

Nanti senjata juga bisa dicocokkan peluru apakah yang masuk ke tubuh korban keluar dari senjata yang ditemukan di TKP. Betul tidak tempat menembak seperti skenario awal, akan kelihatan, yang di bawah tujuh peluru, di atas lima peluru. Nah yang tujuh nggak ada yang kena, ya nggak masuk akal. Orang nembak ke atas lebih gampang dari pada nembak ke bawah apalagi dia lebih senior.

Lima peluru kena katanya untuk bela diri di TKP. Kalau untuk bela diri satu kena kepala harusnya sudah selesai. Untuk apa ditembak lagi, seharusnya menolong bawa ke rumah sakit atau apa.

Ternyata kan terungkap bahwa memang ditembaknya dari jarak dekat, kemudian tujuh tembakan itu Pak Sambo semua yang menembak. Makanya penting CCTV. Jadi saya katakan sangat penting TKP ini, apakah perlu dipublikasi, menurut saya tidak wajib jika melihat kasusnya.

Kalau sudah heboh secara nasional, merata sampai ke desa, bahwa orang di Hongkong dan Amerika juga dengar. Saya yakin polisi sudah datang ke TKP sudah difoto barang bukti sudah dihimpun, kemudian berkas sudah diserahkan ke JPU.

Menurut pengetahuan Pak Susno apakah kasus Sambo ini perlu direkonstruksi?

Kalau pembunuhan itu perlu direkonstruksi, sama seperti kasus kopi sianida Mirna. Jadi memang perlu reka ulang di TKP. Dan karena TKP-nya sudah rusak, saya yakin polisi merekonstruksi tidak cuma sekali, cocokan saksi-saksi, baru kemudian berkas-berkas itu akan diungkap di pengadilan.

Tetapi dalam sebulan ini mengapa tidak disampaikan ke publik terkati rekonstruksi?

Ya memang sudah tetapi kita tidak tahu dan tidak perlu diumumkan. he-he-he (Tribun Network/Reynas Abdila)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved