Berita Karangasem

Dua Jukung Hilang Terbawa Ombak Pasang, Nelayan Karangasem Ini Harap Bantuan Pemerintah

Sedih adalah emosi yang  paling umum kita rasakan kala sesuatu yang berharga hilang dari kita. 

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Harun Ar Rasyid
Tribun Bali/Saiful
Jukung nelayan dan lahan petani garam di Pantai Pengalon, Desa Antiga Klod, Kec. Manggis rusak diterjang ombak besar, Kamis (1/9/2022) siang. 

AMLAPURA, TRIBUN BALI. COM - Sedih adalah emosi yang  paling umum kita rasakan kala sesuatu yang berharga hilang dari kita. 

Terlebih, hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan kita sehari-hari. 

Itulah yang dirasakan Komang Suarnata, nelayan asal Pengalon, Desa Antiga Klod, Kec. Manggis, Karangasem sedih setelah jukungnya hilang terbawa ombak hingga ke tengah laut.

Kejadiannya yakni saat geelombang pasang di Pesisir Pantai, Rabu 31 Agustus 2022 dini hari.

Komang Suarnata, nelayan asal Pengalon, Desa Antiga Klod, Kec. Manggis, Karangasem.
Komang Suarnata, nelayan asal Pengalon, Desa Antiga Klod, Kec. Manggis, Karangasem. (Tribun Bali/Saiful)

Saat itu jukungnya di parkir di pinggir pantai, dan diikat dengan tali dipepohonan. Jukungnya diktahui hilang sekitar pukul 01.00 wita, setelah diberitahu saudara melalui handphone. Mendengar informasi, yang beersangkutan langsung ke lokasi untuk memastikan kabar trsebut.

"Setelah mendapat info, saya langsung kesana memastikannya. Sampai dilokasi, ternyata jukung saya sudh tidak ada. Sempat dicari ke beberapa titik, tetapi tak ada tanda - tanda keberadaannya," kata I Komang Suarnata, Kamis (1/9/2022) kemarin.

Suarnata pasrah dan sedih melihat jukungnya hilang. Ia merenung di pinggir pantai sembari menangis usai dipastikan jukungnya hilang. Pria asli Pengalon seperti belum terima kejadian nahas. Ayah empat anak harus menunggu dua hari di Pesisir Pantai untuk cari info juukungnya.

Jukung yang hilang merupakaan sumber penghidupan keluarga. Mulai dari kebutuhan dapur si istri, biaya sekolah anak, serta biaya kehidupan anak terakhir yang disabilitas. Satu - satunya barang milik Suarnata bisa menghasilkan uang untuk biaya keluraga hanya dari jukung tersebut.

"Jukung ini salah satu baarang berharga. Saya beli jukung satu tahun lalu. Uangnya dari hasil pinjaman di Bank sebesar 50 juta. Rinciannya 20 juta untuk beli jukung, 24 juta untuk mmbeli mesinnya, dan sisanya untuk membeli jaring,"akui Mang Suarnata.

Pihaknya berharap, pemerintah bisa membantu dan menganti rugi jukungnya karena sudah tidak ada uang. Sementara yang bersangkutan tak turun melaut karena tidak ada jukungnya. Untuk biaya kehidupan keluarga tiap hari harus andalkan dari pinjaman si tetangga dan keluarganya.

"Penghasilan saya cuma dari melaut. Sekarang saya belum bisa melaut karena sudah tidak memiliki jukung. Pembayaran di Bank juga msih beberapa tahun. Sekarang ini saya pusing, tak punya apa - apa. Sampai saya tak makan dua hari gara - gara ini. Saya mohon pmerintah bantu," harapnya.

Perbekel Antiga Klod, Ketut Mertha, mmbenarkan. Ada enam jukung nelayan yang teerkena dampak akibat gelombang pasang. Tiga unit jukung dalam kondisi rusak, dan sisanya hilang terbawa air laut."Dua jukung yang hilang sudh balik. Sekarang tinggal milik Suarnata,"imbuh Ketut Kerta.

Selain kapal, dua lahan petani garam rusak diterjang glombang pasang malam hari. Barang untuk buat garam menghilang entah kemana. Kerugiannya diperkirakan mencapai puluhan juta. Para petani garam terpaksa tak beroperasi untuk sementara dikarenakan lahan garam rusak parah.

"Kerugian akibat kejadian diperkirakan puluhan juta. Yang kasian itu Pak Komang Suarnata. Jukungnya hilang tak ditemukan hingga kini. Apalagi jukungnya didapat dari meminjam di Bank,"tambah Ketut Kerta.

Caption : Komang Suarnata, nelayan asal Pengalon, Desa Antiga Klod, Kec. Manggis, Karangasem.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved