Sponsored Content

Mengenal “Stunting” dan Pencegahannya

Stunting secara definisi merupakan masalah gizi kronis pada anak yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusiany

Editor: Harun Ar Rasyid
istimewa
POSTER STUNTING 

TRIBUN-BALI.COM -  Belakangan ini stunting menjadi permasalahan gizi yang sering kita dengar sebagai anak pendek. Namun faktanya stunting tidak sesederhana itu. Stunting bukan sekadar badan pendek. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis atau penyakit kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama kehidupan yang dimaksud adalah mulai dari konsepsi atau pertemuan sel telur dan sperma sampai anak berusia 24 bulan. Anak yang mengalami stunting memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga rentan terhadap penyakit. Selain itu juga terjadi gangguan perkembangan otak dan kecerdasan. Anak stunting di masa depan berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.

Stunting dan stunted adalah dua keadaan yang berbeda. Stunting dimana selain anak ukuran tubuhnya pendek anak juga mengalami gagal tumbuh dikarenakan kekurangan gizi kronis dalam seribu hari pertama kehidupan. Sedangkan stunted adalah anak yang ukuran tubuhnya pendek dan belum tentu mengalami gagal tumbuh.

Keadaan stunting merupakan permasalahan kompleks yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, kurangnya asupan gizi pada bayi, dan permasalahan kebersihan dan sanitasi.
Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi kemampuan dalam pemenuhan asupan yang bergizi dan pelayanan kesehatan ibu hamil dan balita. Kondisi kesehatan dan status gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah persalinan diketahui dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan menjadi pemicu terjadinya stunting. Jika ibu kekurangan gizi, cenderung bayinya akan lahir dengan berat badan lahir rendah.

Kondisi stunting juga dipengaruhi oleh nutrisi yang didapatkan oleh bayi sejak lahir. Beberapa faktor terjadinya stunting adalah inisiasi menyusu dini (IMD) yang tidak terlaksana, pemberian ASI eksklusif yang gagal, dan proses penyapihan yang terlalu dini. Kondisi sanitasi tempat tinggal dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi. Penyakit infeksi misalnya diare atau cacingan dapat mengganggu penyerapan nutrisi pada sistem pencernaan dan menyebabkan berat badan bayi turun.
Stunting sebenarnya dapat dicegah dengan asupan gizi yang cukup, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Saat masa kehamilan, Ibu hamil diharapkan rutin memeriksakan kehamilannya. Paparan asap rokok harus dihindari karena dapat membahayakan kesehatan janin. Ibu hamil juga harus makan makanan yang kaya zat besi, asam folat, dan garam beryodium.
Melakukan kunjungan secara rutin ke dokter, posyandu, atau fasilitas kesehatan lainnya sangat penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemeriksaan kesehatan anak hendaknya dilakukan setiap bulan pada anak usia 0 sd. 12 bulan, setiap 3 bulan pada anak usia 1 sd. 3 tahun, setiap 6 bulan pada anak usia 3 sd. 6 tahun, dan setiap tahun pada anak usia 6 sd. 18 tahun.
ASI adalah senjata paling penting dalam memerangi stunting karena ASI berperan dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan berpengaruh baik terhadap status gizi bayi dan perkembangan otak, mencegah kegemukan, mencegah infeksi, mengurangi resiko terhadap alergi serta menurunkan kesakitan. Kolostrum adalah ASI pertama yang dikeluarkan payudara pada masa kehamilan yang mengandung antibodi yang tinggi. Menurut penelitian, balita yang tidak mendapatkan kolostrum memiliki risiko 2,78 kali menjadi stunting.
Anak sebaiknya diberikan MP-ASI pada saat memasuki usia ke-7 bulan. Pemberian MP-ASI terlalu dini dapat menimbulkan gangguan pada pencernaan seperti diare, muntah dan sulit buang air besar, serta dapat menyebabkan stunting. Sebaliknya pemberian MP-ASI terlalu lambat mengakibatkan bayi mengalami kesulitan belajar mengunyah, tidak menyukai makanan padat, dan bayi kekurangan gizi.
Lengkapi imunisasi anak terutama imunisasi dasar untuk melindungi anak dari penyakit. Ibu hamil dan anak harus tinggal di lingkungan yang bersih. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah tidak buang air besar sembarangan, rutin mencuci tangan dengan sabun, dan meningkatkan ketersediaan air bersih. Hal yang tidak kalah penting adalah meningkatkan stimulasi psiko sosial atau bonding antara kedua orang tua dan anak.

Penulis: dr. I Kadek Ariarta Mahartama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved