berita denpasar

FSPM Bali Tegaskan Menolak Kenaikan Harga BBM, Rai: Ekonomi Belum Pulih, Memberatkan Pekerja

FSPM Bali Tegaskan Menolak Kenaikan Harga BBM, Rai: Ekonomi Belum Pulih, Memberatkan Pekerja

Penulis: Putu Supartika | Editor: Harun Ar Rasyid
ist
ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Pemerintah resmi menaikkan harga BBM bersubsidi pada Sabtu, 3 September 2022 kemarin.

Bahkan kenaikan BBM ini diberlakukan dalam waktu singkat yakni satu jam setelah diumumkan.

Terkait dengan kenaikan harga BBM bersubsidi ini, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) regional Bali merasa kecewa.

“Kami merasa kecewa dengan keputusan yang dibuat pemerintah yang menaikkan BBM bersubsidi ini. Karena baru saja pariwisata di Bali mulai menggeliat,” kata Sekjen FSPM Regional Bali, Ida I Dewa Made Rai Budi Darsana saat dihubungi Minggu, 4 September 2022.

Salah satu suasana SPBU di Kota Negara Jembrana yang terpantau berjalan seperti biasanya, Rabu 31 Agustus 2022.
 
 
Salah satu suasana SPBU di Kota Negara Jembrana yang terpantau berjalan seperti biasanya, Rabu 31 Agustus 2022.     (Tribun Bali)

Rai mengatakan selain pariwisata baru menggeliat, pekerja pariwisata yang mulai bekerja pasca Pandemi Covid-19 ini belum memiliki penghasilan yang masih jauh dari layak.

“Tuba-tiba BBM subsidi utamanya Pertalite naik. Jelas akan memberatkan pekerja di Bali,” kata Rai.

Karena kenaikan dari BBM ini akan berdampak terhadap kenaikan harga bahan pokok.

“Bagaimana mungkin sedang dalam masa sulit bagi masyarakat kemudian pemerintah mengambil kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi ini,” katanya.

Pihaknya pun berharap agar pemerintah melakukan peninjauan kembali terhadap kenaikan BBM ini.

Dan bahkan FSPM regional Bali secara tegas menolak kenaikan BBM bersubsidi ini.

Sementara itu, ditanya terkait aksi penolakan, pihaknya mengaku masih menunggu instruksi dari FSPM pusat.

“Namun kami bersikap bahwa kami FSPM menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM ini. Ekonomi Bali dan juga nasional belum pulih,” katanya.

Ia mengatakan saat ini kebanyakan penghasilan dari pekerja khususnya pariwisata di Bali belum pulih.

Rata-rata dari mereka baru mendapat penghasilan rata-rata 50 persen dari penghasilan sebelumnya.

“Mungkin daerah-daerah Badung yang kena imbas G20 sudah normal, tapi yang lain masih sekitar 50 persen kembali penghasilan mereka. Karena ada beberapa hotel belum menerapkan upah secara penuh,” katanya.

Dirinya pun mengatakan penghasilan dari pekerja hotel ini tak hanya dilihat dari Denpasar maupun Badung, namun menyeluruh di Bali.

“Mungkin di Denpasar dan Badung sudah lebih baik. Tapi bagaimana dengan daerah lainnya. Karena Bali kan bukan Badung dan Denpasar saja,” katanya. (*)

Baca juga: Pasca Kenaikan Harga BBM, SPBU di Klungkung Dijaga Ketat Aparat Kepolisian

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved