Berita Jembrana

Koster Cek Lokasi Groundbreaking Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk, Kompensasi Lahan Masih Proses

Gubernur Bali, I Wayan Koster meninjau lokasi rencana pelaksanaan groundbreaking di tanah Perusda Provinsi Bali di Banjar Pasar, Pekutatan

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Gubernur Bali Wayan Koster bersama pejabat lainnya saat meninjau lokasi rencana groundbreaking di Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Minggu 4 September. 

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Gubernur Bali, I Wayan Koster meninjau lokasi rencana pelaksanaan groundbreaking di tanah Perusda Provinsi Bali di Banjar Pasar, Desa/Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Minggu 4 September 2022.

Rencanannya peletakkan batu pertama itu akan berlangsung pada 10 September mendatang.

Kemudian untuk kompensasi warga terdampak masih dalam proses oleh tim appraisal. 


Menurut pantauan, Koster juga didampingi sejumlah petinggi seperti Kapolda Bali, Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra, Danrem Wirasatya, Bupati Jembrana, I Nengah Tamba beserta jajaran dan Ketua DPRD Jembrana, Ni Made Dri Sutharmi.

Baca juga: 4.194 Pemilih Jembrana Tak Memenuhi Syarat di Agustus, KPU Jembrana Terus Update Data Pemilih


Gubernur Koster mengatakan, dipilihnya lahan di Kabupaten Jembrana sebagai lokasi groundbreaking karena lahan di wilayah Pekutatan ini adalah lahan yang selama ini dikelola oleh Perusda Provinsi Bali atau tanah milik negara.

Sehingga, lahan ini lebih cepat bisa dibebaskan dan tidak berisiko.


"Tanah di sini selama inj kan dikelola perusda sehingga lebih cepat untuk dibebaskan dan tidak ada risiko," katanya. 


Disinggung mengenai adanya mess dan wilayah lain yang terdampak, Koster enggan menjelasian lebih lanjut.

Dirinya menegaskan prosesnya nanti akan disesuaikan dengan peraturan yang ada.

Baca juga: Kompensasi Sapi Dipotong Bersyarat Belum Ada Kepastian, Pemkab Jembrana Tunggu Konfirmasi Pusat


"Nanti kita pindah. Kita pindah ke tempat yang sudah kita disiapkan," janjinya. 


Kemudian mengenai kompensasi lahan warga terdampak, politikus asal Buleleng ini menegaskan semua masih proses. Terpenting, mulai tanah, pohon, rumah atau bangunan, hingga upakara sedang dihitung. 


"Untuk realiasi (kompensasi) masih menunggu dulu. Kan belum diukur," tandasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Berita Jembrana

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved