Berita Klungkung

Pembuatan Rumit dan Bernilai Seni Tinggi, Penjualan Kain Beludru Lukis Paksebali Kembali Menggeliat

Kerajinan kain beludru di Desa Paksebali, Klungkung, penjualan kain beludru untuk kebutuhan upacara mulai menggeliat

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Pedagang kain beludru lukis di Desa Paksebali Klungkung - Pembuatan Rumit dan Bernilai Seni Tinggi, Penjualan Kain Beludru Lukis Paksebali Kembali Menggeliat 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Sejak pandemi Covid-19 mereda, kegiatan adat tidak lagi dibatasi.

Kondisi ini mendorong menggeliatnya penjualan berbagai sarana upakara di Kabupaten Klungkung, Bali.

Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung selama ini dikenal sebagai sentra pengrajin kain beludru dan tedung yang biasa digunakan saat upacara adat.

Kerajinan kain beludru di Desa Paksebali, dikenal dengan corak khas berisi lukisan warna emas, yang sejak lama diminati warga di Bali, baik untuk hiasan maupun untuk kelengkapan sarana upacara.

Baca juga: Akan Dijadikan Cinderamata Pada Perhelatan G20, Menparekraf Pesan 120 Kain Tenun Desa Tenganan 

Biasanya kain ini digunakan untuk kepentingan ider-ider, pedapa, tedung, saput bangunan, dan dianggap memiliki hasil cipta seni bernilai tinggi.

Seorang perajin kain beludru, Anak Agung Oka menyampaikan, penjualan kain beludru untuk kebutuhan upacara mulai menggeliat, setelah sempat sepi order berbulan-bulan karena dampak pandemi Covid-19.

“Kalau masih pandemi semua kegiatan dibatasi termasuk kegiatan adat. Produksi kain juga kami batasi, karena sulit laku. Sekarang sudah mulai dibuka (kegiatan masyarakat), order mulai meningkat. Apalagi sekarang musim ngaben,musim odalan,” ujar Anak Agung Oka, Jumat 2 September 2022.

Anak Agung Oka menjelaskan, harga kain beludru dengan lukisan berwarna emas dijual dengan harga Rp 125 ribu per meter hingga Rp 150 ribu per meter, tergantung kualitas kain dan jenis lukisan yang dipesan. Selain dipasarkan di Bali, kain beludru lukisan khas Desa Paksebali juga dipasarkan sampai ke Lombok, Sulawesi, Lampung, dan Sumatra.

"Bahan-bahan impor seperti pernak-pernik mute itu didatangkan dari luar.Harganya naik sampai 30 persen.Tapi kami belum berani menaikkan harga jual karena masih tahap pemulihan,” ungkap Anak Agung Oka.

Sementara itu, seorang perajin lainnya, Nengah Mudra mengatakan, harga kain beludru lukis memiliki harga yang cukup tinggi dibandingkan kain lainnya. Ini karena prosesnya yang rumit.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved