Berita Bali

Kendaraan Konversi, Gunakan Motor Listrik Tanpa Sisakan Bangkai Motor

Di tengah problematika kenaikan harga BBM, berbagai solusi ditawarkan.

(Putu Yunia Andriyani)
Putu Yindy Kurniawan, Direktur PT Percik Saya Nusantara dalam uji coba kendaraan listrik hasil konversi di Harhubnas 2022 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di tengah problematika kenaikan harga BBM, berbagai solusi ditawarkan.

Salah satunya adalah dengan menggunakan kendaraan dengan daya listrik.

Namun, mendapatkan kendaraan listrik dengan membeli produk baru akan menyebabkan adanya sampah baru.

Kendaraan berbahan bakar minyak tentu semakin banyak tak terpakai dan berpotensi menjadi sampah.

Putu Yindy Kurniawan, Direktur PT Percik Saya Nusantara dalam uji coba kendaraan listrik hasil konversi di Harhubnas 2022
Putu Yindy Kurniawan, Direktur PT Percik Saya Nusantara dalam uji coba kendaraan listrik hasil konversi di Harhubnas 2022 ((Putu Yunia Andriyani))

Mengatasi hal ini, dibuatlah sebuah teknologi yaitu mengonversi kendaraan untuk mendapatkan kendaraan listrik.

Seperti yang dilakukan oleh Putu Yindy Kurniawan, Direktur PT Percik Saya Nusantara.

Lelaki yang akrab disapa Yindy ini menjelaskan tentang kendaraan konversi yang ia naungi.

“Jadi cara masyarakat untuk mendapatkan kendaraan listrik itu bisa dengan membeli kendaraan baru yang sudah memiliki brand.

Nah selain itu, masyarakat bisa mengonversikan kendaraan mereka yang sudah ada untuk menjadi kendaraan listrik,” jelas Yindy.

Dalam peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2022 di Dinas Perhubungan Provinsi Bali pada Minggu, 11 September 2022, Yindy memanjang beberapa unit konversinya.

Ada tiga kendaraan, salah satu yang utama adalah Yamaha Konversi XXR 115 diubah menjadi Yamaha Listrik.

Unit ini telah mendapatkan legalitas untuk dapat digunakan di jalan raya yang ditunjukkan dari plat motor yang berwarna biru.

Dari segi body motor, tidak ada perubahan drastis terlihat dari kendaraan Yamaha XSR 115 yang sebelumnya menggunakan BBM.

Bagian bawah mesinnya telah dilepas dan digantikan dengan dinamo motor yang bernilai 3000 watt.

Baterai motor listrik menggunakan baterai GESITS sebanyak dua unit disertai dengan kontroler.

“Secara peraturan dari Kementerian Perhubungan, konversi kendaraan tidak boleh merubah apapun selain penggerak.

Oleh karena itu, kami berusaha untuk tetap mempertahankan bagian motor sesuai hak intelektual Yamaha,” ujar Yindy.

Penaatan konversi ini pun dapat dilihat dari kecepatan kendaraan yang tidak berubah, yaitu hingga 110-120 km/jam untuk Yamaha XSR 115.

Daya angkut Yamaha XSR 115 sendiri juga tidak berubah dan masih sama seperti kekuatan sebelumnya.

Secara keseluruhan, Yindy mengonversi motor dengan mengubah maximal 5 persen sebagai rentan toleransi dari aslinya.

Konversi yang dipimpin Yindy mengarah pengisian daya ke dua sistem yaitu penukaran baterai dan pengecasan.

Penukaran baterai ini diperuntukkan apabila kendaraan melakukan pengisian di jalan raya.

Prosesnya sendiri sangat mudah yaitu hanya memerlukan waktu selama kurang lebih 10 detik.

Sementara pengecasan dilakukan saat kendaraan diam, seperti di rumah, kafe, dan kantor.

Sekali mengecas, waktu yang diperlukan untuk mengisi daya baterai hingga penuh adalah 4 jam.

Yindy mengatakan kendaraan konversi ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.

Keunggulan pertama adalah kendaraan listrik bebas emisi karena tidak menggunakan BBM.

Dengan mengubah STNK menjadi kendaraan listrik, pajak kendaraan lebih murah.

“Untuk Yamaha XSR 115 ini pajak sebelumnya sekitar Rp 415.000, namun setelah menjadi kendaraan listrik pajaknya menjadi Rp 30.000 per tahun,” kata Yindy.

Pengoperasionalnya sehari-hari, dua unit baterai GESITS hanya membutuhkan daya 3 Watt atau 3 kWh.

Artinya, sekali melakukan pengecasan, masyarakat hanya cukup mengeluarkan Rp 6.000 untuk jarak tempuh 100 km dengan kecepatan 50 km/jam.

Yindy menjelaskan berbagai brand kendaraan dan otomotif ternama yang sudah ada memiliki pengalaman tentang kenyamanan berkendara.

Ini menjadi salah satu alasan kuat pemilihan kendaraan listrik dengan konversi sesuai untuk kebutuhan saat ini.

Terkait harga, konversi kendaraan memiliki beragam jenis harga sesuai dengan jenis kendaraannya.

“Kalau Yamaha XXR 115 menghabiskan Rp 45.000.000 untuk proses konversinya.

Apabila baterai disubsidi oleh pemerintah, masyarakat tidak perlu membeli baterai namun cukup menyewanya saja,” jelas Yindy.

Dengan penyewaan baterai, harga untuk mendapatkan kendaraan konversi dapat menjadi lebih murah 50 persen.

Mesin tangki bahan bakar dari kendaraan sebelumnya juga diharapkan dapat dibeli kembali oleh pemilik brand.

Pembelian ini tentu akan memberikan pemasukan sehingga meringankan biaya konversi.

Target kedepan biaya konversi kendaraan ini dapat dilakukan dengan harga di bawah Rp 10 juta.

Penggunaan kendaraan konversi akan semakin maksimal dengan penyediaan stasiun penukaran baterai masyarakat oleh Pertamina.

Stasiun dapat mempermudah masyarakat untuk menukarkan baterainya di mana saja.

Konversi kendaraan dapat dilakukan di bengkel milik Yindy, Volto Mechanix yang berlokasi di Jalan Prof. Ida Bagus Mangra, Ketewel, Gianyar, Bali.

Atau bisa memantau informasi terlebih dahulu melalui akun Instagram di @volto.mechanix.

Yindy berharap dengan kendaraan konversi, kendaraan yang berada di jalan raya tidak bertambah banyak.

Mengonversi kendaraan juga sebagai bentuk dukungan terhadap e-mobility di Bali untuk Bali yang lebih bersih dan lebih indah. (yun)

Baca juga: Bersiap Beralih ke Motor Listrik, Respon Pejabat Pemprov dan Warga Bali Soal Harga BBM Naik

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved