Berita Nasional

BREAKING NEWS: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Riau, Diduga Jaringan Terorisme di Indonesia

Densus 88 Antiteror berhasil menangkap terduga teroris yang berada di Dumai, Riau, pada Kamis 15 September 2022.

ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA VIA KOMPAS.COM
Personel kepolisian dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang berjaga di Mabes Polri, Jakarta, Rabu, 31 Maret 2021. Densus 88 Antiteror berhasil menangkap terduga teroris yang berada di Dumai, Riau, pada Kamis 15 September 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA BREAKING NEWS: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Riau, Diduga Jaringan Terorisme'> Terorisme di Indonesia.

Densus 88 Antiteror berhasil menangkap terduga teroris yang berada di Dumai, Riau, pada Kamis 15 September 2022.

Terduga teroris tersebut pun diduga merupakan jaringan terorisme di Indonesia.

Hal tersebut pun dibenarkan oleh Kabag Banops Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar.

"Benar ada penangkapan (teroris) di Riau," kata Aswin kepada wartawan, Kamis 15 September 2022.

Kendati demikian, Aswin masih enggan merinci terkait identitas terduga teroris yang ditangkap di Riau tersebut. Termasuk, perannya dalam jaringan teroris di Indonesia.

Baca juga: Pasca Penangkapan Terduga Teroris F di Lumajang, Kapolda Bali : Kita Siap

"Sejumlah orangnya nanti kami rilis. Mohon waktu ya," pungkasnya.

Polisi Sebut Terduga Teroris yang Ditangkap di Lumajang Jaringan JAD

Kepala Satgaswil Densus 88/Antiteror Polri Bali Kombes Pol Ketut Widhiarto, mengungkapkan FI (28), warga Denpasar, yang ditangkap di Lumajang terkait kasus terorisme merupakan jaringan jamaah ansharut daulah (JAD). 

JAD merupakan organisasi yang terafiliasi yang terafiliasi dan mendukung gerakan Negara Islam irak dan Suriah (ISIS).

FI diketahui ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri karena diduga terlibat jaringan teroris di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa 6 Agustus 2022.

"Disebut sebagai kelompok Ansyorut Daullah (AD) atau Pendukung ISIS," kata Widhiarto melalui pesan instan aplikasi Whatsapp pada Jumat 9 September 2022.

Widhiarto mengatakan, FI sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dia diduga terpapar paham terorisme melalui media sosial dan direkrut secara daring.

"Mereka (dia FI) terpapar radikalisme melalui media sosial, dan terekrut secara online," kata dia.

Berkat adanya informasi dari warga sekitar, Tribun Bali berhasil sampai di rumah kos terduga teroris F. Di depan pintu rumah, terdapat beberapa helai tali yang digunakan untuk menjemur pakaian.

Saat Tribun Bali mengetuk pintu rumah kos terduga teroris F pada Jumat 9 September 2022 pukul 16.10 WITA, terdengar suara gemericik air dari dalam rumah, tanda rumah tersebut ada penghuninya.

Suasana jalan masuk menuju kamar kos FI, terduga teroris yang ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa 6 Agustus 2022.

(Tribun Bali/ Gusping)

Setelah direkrut, lanjut Widhiarto, FI kemudian mengikuti sumpah setia kepada pemimpin ISIS melalui daring.

"Perekrutan itu diwujudkan dalam bentuk Bai'at (sumpah setia) kepada Pimpinan ISIS yang juga dilaksanakan secara online," bebernya.

Lebih lanjut, Widhiarto menuturkan, Densus akan meningkatkan pengawasan dan pengetatan di sejumlah pintu masuk Bali.

Apalagi dalam waktu dekat, Bali akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan dihadiri oleh kepala negara dan delegasi negara anggota.

Baca juga: Ayah Terduga Teroris Enggan Bicara,Tetangga di Denpasar Sebut FI Susah Bergaul dengan Warga

Adapun akses keluar dan masuk Bali tersebut, yakni Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Pelabuhan Benoa, dan pelabuhan nelayan di daerah pesisir Bali, serta Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali.

"Sterilisasi terhadap lokasi atau tempat yang akan digunakan untuk event-event Presidensi G20 maupun penginapan dari seluruh delegasi dari kegiatan tersebut," kata dia.

Selain itu, Widhiarto mengatakan, pihaknya akan meningkatkan upaya untuk menekan tumbuhnya bibit teroris di Bali dengan berbagai pendekatan.

Salah satunya, melakukan kontra narasi melalui modernisasi pemahaman beragama dan penguatan wawasan kebangsaan.

"Memetakan setiap potensi ancaman radikal-terorisme yang ada di Bali, diantaranya dengan cara pendekatan persuasif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari instansi pemerintahan dan elemen masyarakat lainnya," kata dia.

(*)

Artikel ini tayang di Tribunnews.com dan Kompas.com.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved