Berita Denpasar

Pertunjukan Nungkalik untuk Obama Foundation, Menghayati Dunia Sunyi Teman Tuli

Pertunjukan Nungkalik untuk Obama Foundation, Menghayati Dunia Sunyi Teman Tuli

Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Harun Ar Rasyid
TB/Istimewa
pertunjukan Nungkalik yang ditampilkan secara virtual, Sabtu 10 September 2022 dari Geoks Art Space pada forum Asia Pacific Leaders yang diinisiasi Obama Foundation. Ist 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Kesunyian menjadi inti dari segala riuh peristiwa, sebagai awal sekaligus muara dari setiap perjalanan diri manusia.

Kesunyian itu melekat dan menular begitu cepat dalam pertunjukan Nungkalik yang ditampilkan secara virtual, Sabtu 10 September 2022 dari Geoks Art Space pada forum Asia Pacific Leaders yang diinisiasi Obama Foundation. Sunyi itu, terbukti meretas jarak peristiwa.

Tak mengenal ruang dan waktu, menjalar dan menghinggapi 23 partisipan dari negara-negara dunia dari sektor publik, swasta dan nirlaba yang hadir dalam forum tersebut.

Wahyu menjadi inspirasi utama dalam dramatic dance theatre berjudul Nungkalik karya Kitapoleng Bali, yang didukung teman tuli lainnya seperti Salsa, Yogi dan Ayu.

Jasmine Okubo, penata gerak kelahiran Jepang yang telah lama bermukim di Bali begitu lihai memaksimalkan segala potensi yang ada dalam diri mereka, para penari tuli itu.

Tubuh penari dalam diri Wahyu dan penari tuli lainya, dibentuk sedemikian rupa menjadi tubuh aktor sekaligus, untuk menyuarakan kisah-kisah yang hidup di dalam diri Wahyu.

Dalam pandangan umum, bisa jadi cacat semacam tuli –juga bisu, telah menjadi kutukan yang tak tertanggungkan.

Tapi bagi Wahyu, kutukan itu menjadi pemantik segala daya yang dimilikinya.

Untuk menjadi kuat, semakin kuat dan bertumbuh setiap harinya. Inilah yang terungkap jelas dalam pertunjukan Nungkalik berdurasi sekitar 20 menit itu.

“Stigma negatif bagi teman tuli sejujurnya masih sangat terasa hingga saat ini meski telah banyak upaya dan inisiasi dari berbagai kalangan untuk menghapusnya. Karena itu, Nungkalik menjadi salah satu upaya kami dari Kitapoleng Bali untuk memanusiakan manusia, mengikis stigma dan diskriminasi yang dialami teman tuli dan disabilitas lainnya. Mereka layak dan harus dipandang setara dengan teman normal lainnya. Bahkan dalam banyak hal, mereka telah berhasil menunjukkan motivasi yang jauh lebih besar dari kita yang normal. Saya, Anda, mereka dan kita semua adalah sama. Di mata kemanusiaan, kita tidak berbeda,” tegas Jasmine pada, Sabtu 17 September 2022.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved