Berita Denpasar

Peringatan ke-116 Perang Puputan Badung, Ngurah Putra: Puputan Sebuah Perjuangan Membela Kebenaran

Peringatan ke-116 Perang Puputan Badung, Ngurah Putra: Puputan Sebuah Perjuangan Membela Kebenaran

Penulis: Putu Supartika | Editor: Harun Ar Rasyid
TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Peringatan ke-116 perang Puputan Badung di catus pata Puri Pemecutan Denpasar 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Selasa, 20 September 2022 merupakan peringatan ke-116 perang Puputan Badung, atau perang sampai titik darah penghabisan melawan penjajah Belanda.

Wilayah Kerajaan Badung yang kini menjadi Kota Denpasar dan Kabupaten Badung membara saat itu.

Ratusan hingga ribuan nyawa dari rakyat Badung melayang dalam perang puputan ini untuk membela kedaulatan bumi pertiwi termasuk I Gusti Ngurah Made Agung yang merupakan RaJa Badung V.

Perang Puputan Badung ini berawal dari terdamparnya kapal dagang berbendera Belanda Sri Komala pada bulan Mei 1904.

Peringatan ke-116 perang Puputan Badung di catus pata Puri Pemecutan Denpasar
Peringatan ke-116 perang Puputan Badung di catus pata Puri Pemecutan Denpasar (TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA)

Seorang pedagang dari China bernama Kwee Tek Tjiang membuat laporan palsu bahwa uang dalam jumlah besar sudah dicuri oleh mayarakat Badung.

Hingga dengan laporan palsu tersebut ia meminta ganti rugi ke Kerajaan Badung.

Namun ganti rugi itu ditolak oleh Raja Badung yang kemudian didengar oleh Gubernur Hindia Belanda, Van Heutsz.

Atas penolakan pembayaran ganti rugi tersebut, terjadilah penyerangan ke Kerajaan Badung yang selanjutnya dibalas dengan puputan oleh rakyat Kerajaan Badung.

Puncak dari perang puputan Badung ini adalah pada 20 September 1906.

Untuk memperingati momen bersejarah dan heroik tersebut, Puti Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman menggelar peringatan Perang Puputan Badung pada Selasa, 20 September 2022.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved