Berita Denpasar

Kasus Konten Porno Berbusana Adat Bali, Sosiolog UNUD Bicara Homo Ludens, Ini Penjelasannya

Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho berbicara soal Homo Ludens

Tribun Bali/Ida Bagus Putu Mahendra
Pemeran Video Mesum Berpakaian Adat Bali Diamankan Ditreskrimsus Polda Bali, Disangkakan Hukuman Penjara 12 Tahun. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho menilai kasus viral muda-mudi membuat konten porno berbusana adat dan diunggah ke media sosial merupakan bagian dari perilaku Homo Ludens.

Dijelaskan Wahyu, perspektif homo ludens melihat manusia sebagai makhluk yang suka bermain-main ketika sedang berada pada titik jenuh.

“Saya cenderung melihat ini dari perspektif homo ludens, biasanya karakter homo ludens memiliki keinginan bermain-main muncul ketika manusia sedang merasa jenuh, yang menjadi persoalan ketika naluri ini muncul dan itu bertentangan dengan nilai norma dan budaya sosial seperti dalam kasus dua muda mudi yang membuat video porno dengan baju adat kemudian diunggah di media sosial,” ujar Wahyu dalam wawancara dengan Tribun Bali, Kamis 22 September 2022 malam merespons pengungkapan pelaku oleh kepolisian.

Melihat motif kedua pelaku yang hanya berstatus sebagai teman, kemudian berfantasi membuat konten porno untuk disebar di media sosial, kata Wahyu, hal itu menunjukkan bagaimana pelaku sedang bermain main untuk mengundang respons public dan sejenisnya

“Di era media sosial sekarang ada kecenderungan anak muda berhasrat untuk menjadi populer, viral dengan cara dia memposting hal-hal yang bisa viral dan sejenisnya, kita bisa lihat bagiamana banyak video-video soal keisengan prank dan sebagainya sebagai contoh fenomena hasrat untuk menajdi viral dan dikenal,” kata dia.

Baca juga: Buat Video Asusila Setelah Melukat, Polda Tangkap Pelaku Esek-esek Berpakaian Adat Bali

“Tetapi dalam kasus ini saya kira itu melampaui batas, seperti tadi cenderung menyalahi nilai norma dan budaya sosial jadi perlu edukasi agar anak muda sekarang masih memahami batasan itu. Pihak berwajib perlu bertindak tegas agar kejadian sepetri ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” sambung penulis buku Sosiologi  Kehidupan Sehari-hari  itu.

Lebih jauh, Wahyu membeberkan, karakter homo ludens pada manusia umumnya muncul ketika manusia sedang merasa jenuh dan membutuhkan senasasi dengan mencoba hal-hal yang baru. Karakter homo ludens sejatinya ada di setiap diri manusia, namun setiap individu berbeda-beda.

“Ketika dia jenuh ada yang cukup bermain game,  ada kemudian suka membuat jokes lelucon atau prank, hanya saja di kasus ini karakter yang muncul menyalahi nilai norma dan budaya sosial sehingga tidak bisa ditolerir,” tuturnya.

Di samping itu, Wahyu mengatakan kasus ini juga bisa ditilik dari perspektif kenakalan remaja yang muncul akibat sosialisasi yang tidak sempurna.

Sosialisasi adalah proses individu belajar seumur hidup untuk menyesuaikan dengan nilai norma budaya sosial masyarakat, yang menjadi persoalannya sekarang agen sosialisasi tidak  hanya keluarga sekolah masyarakat tapi juga ada media sosial.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved