Berita Bali

Berawal dari Riset Soal Kopi di Tanah Gayo, Fikar W Eda Bawakan Syair “Mantra Kopi” di Bali

Fikar W. Eda membawakan syair “Mantra Kopi” di Jatijagat Kehidupan Puisi, Denpasar, Bali pada Selasa 20 September 2022 kemarin.

(Tribun Bali/Ida Bagus Putu Mahendra)
Penyair kondang asal Tanah Gayo, Fikar W. Eda (kanan) saat membawakan syair “Mantra Kopi” di Jatijagat Kehidupan Puisi, Denpasar, Bali pada Selasa 20 September 2022 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Fikar W. Eda membawakan syair “ Mantra Kopi” di Jatijagat Kehidupan Puisi, Denpasar, Bali pada Selasa 20 September 2022 kemarin.

Kehadiran Fikar W. Eda di Pulau Dewata, didampingi sang istri, Devie “Matahari” serta rekannya Yoyok Harness.

Ditemani secangkir kopi khas Tanah Gayo, Fikar W. Eda melantunkan syair “Mantra Kopi” yang dibarengi dengan rintik hujan.

Penyair kondang asal Tanah Gayo, Fikar W. Eda (kanan) saat membawakan syair “Mantra Kopi” di Jatijagat Kehidupan Puisi, Denpasar, Bali pada Selasa 20 September 2022
Penyair kondang asal Tanah Gayo, Fikar W. Eda (kanan) saat membawakan syair “Mantra Kopi” di Jatijagat Kehidupan Puisi, Denpasar, Bali pada Selasa 20 September 2022 ((Tribun Bali/Ida Bagus Putu Mahendra))

Fikar W. Eda menuturkan, syair “ Mantra Kopi” berawal dari risetnya soal kopi di Tanah Gayo.

Dirinya merasa terganggu dengan banyaknya versi asal-muasal kopi atau sengkewe (sebutan kopi bagi Masyarakat Aceh dan Gayo), khususnya di Tanah Gayo.

“Itu sastra lisan. Saya itu hanya mencari, kebetulan itu ( Mantra Kopi) ketemu.”

“Alasan saya mencari itu karena merasa terganggu dengan sejarah kopi yang beredar. Kopi itu seperti ini, masuknya seperti ini,” jelas Fikar W. Eda saat ditemui Tribun Bali pada Selasa 20 September 2022.

Kata-kata yang ada dalam “ Mantra Kopi” merupakan hasil risetnya dari sastra lisan para tetua di Tanah Gayo dan juga dari beberapa pustaka.

Lebih lanjut soal “ Mantra Kopi”, Fikar W. Eda menjelasnkan, syair tersebut bukan soal hal magis.

Kata - kata dalam puisi “ Mantra Kopi” merupakan proses alamiah mengenai penyerbukan sebuah tumbuhan.

“Teks itu kan bermuatan ilmu pengetahuan ternyata. Itu bukan mistis. Proses penyerbukan tanaman kan itu.”

“Artinya ini cara Orang Gayo dalam menyerap ilmu pengetahuan, kemudia mentransformasikannya ke generasi selanjutnya melalui sastra,” jelas Fikar W. Eda, sang penyair asal Gayo.

Fikar W. Eda menambahkan, “ Mantra Kopi” telah dibawakannya hingga ke Australia.

Berikut puisi “ Mantra Kopi” yang diterjemahkan oleh penyair asal Gayo, Fikar W. Eda.

Oh Sengkewe

Kunikahen Ko Orom Kuyu

Wih Walimu

Tanoh Saksimu

Matanlo Kin Saksi Kalamu

(Oh Kopi)

(Kunihkahkan Dikau Dengan Angin)

(Air Walimu)

(Tanah Saksimu)

(Matahari Saksi Kalammu)

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved