Berita Bali

Jadi Ancaman Terbesar, Belasan Ekor Penyu Mati Setiap Tahun Makan Sampah Plastik

Belasan satwa penyu ditemukan mati setiap tahunnya. Salah satu penyebabnya adalah penyu memakan sampah plastik yang ada di lautan.

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Salah satu kondisi pesisir pantai di pesisir Jembrana yang masih dipenuhi sampah plastik dan kayu. 

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Belasan satwa penyu ditemukan mati setiap tahunnya. Salah satu penyebabnya adalah penyu memakan sampah plastik yang ada di lautan.

Hal tersebut merupakan salah satu contoh dampak dari sampah plastik yang mencemari laut.

Dengan kondisi ini, para pemerhati lingkungan meminta semua elemen ikut menjaga alam agar tak tercemar.


Menurut Koordinator Pelestari Penyu Kurma Asih Desa Perancak, I Wayan Anom Astika Jaya, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sudah ada puluhan ekor penyu yang mati.

Baca juga: 76 Ekor Tukik Penyu Hijau Dilepasliarkan di Jembrana, Satwa Langka Harus Dilindungi

Penyebabnya adalah berbagai faktor yang tentunya berhubungan dengan sampah plastik. Mulai dari organisme yang memakan sampah plastik, terjerat sampah plastik.


"Kalau 10 tahun terakhir itu ada puluhan ekor penyu (mati). Kalau per tahun sekitar belasan ekor," sebut Anom saat dikonfirmasi, Minggu 25 September 2022. 


Dia mengungkapkan, sebagian besar penyu mati karena memakan sampah plastik karena mereka mengira itu adalah makanannya. Beberapa kali, sampah plastik juga ditemukan sudah pada saluran pencernaan penyu itu sendiri. 


Sehingga, kata dia, sampah plastik sangat berdampak atau sangat berbahaya bagi lingkungan, khususnya biota laut.

Terlebih, saat ini penggunaan sampah plastik cendrung meningkat dratis tanpa penanganan yang sepadan. 

Baca juga: Rawan Jual Telur Penyu untuk Kejantanan, Bisa Ditindak Pidana, 85 Telur Diselamatkan Warga Jembrana


"Organisme lain di laut juga sering terdampak. Ini tentunya menjadi ancaman bagi biota laut dan kita secara umum jika tidak kita tangani dengan serius," tegasnya. 


Anom kembali menegaskan, semua pihak harus berperan untuk berperang terhadap sampah plastik.

Tidak hanya di hulu, terkadang masyarakat di hilir juga membuat sampah langsung ke laut. Edukasi dan regulasi yang jelas harus berjalan beriringan jika ingin sukses menangani sampah. 


"Yang paling penting adalah edukasi dan regulasi. Ini juga diharapkan konsisten dilakukan. Sehingga semua pihak harus berperan agar bisa tertangani. Intinya jangan buang sampah sembarangan dan itu konsisten. Bila perlu, sampah plastik justru diolah menjadi bahan yang bermanfaat," tandasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Penyu

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved