Berita Gianyar

Harga Jeruk Bali Tak Sebanding Biaya Produksi, Petani di Gianyar Meringis, Pepaya Dihargai Rp 1000

Harga Jeruk Bali Tak Sebanding Biaya Produksi, Petani di Gianyar meringis

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Marianus Seran
Tribun Bali
Harga Jeruk Bali Tak Sebanding Biaya Produksi, Petani di Gianyar Meringis. 

 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Kenaikan  harga bahan bakar minyak (BBM) rupanya tak berpengaruh pada harga jual jeruk bali, khususnya hasil panen petani di Desa Pupuan, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali.

Sebab, biaya produksi dengan harga jual per kilogram tak sebanding.

Dimana saat ini harga jeruk bali hanya di kisaran Rp 4.000 per kilogram. Sementara biaya produksi, seperti pupuk dan biaya pemeliharaan rutin mengalami peningkatan. 

Baca juga: Resmi, Pasar Hewan Beringkit Akan di Buka 8 Oktober 2022 Mendatang


"Harga jeruk saat ini Rp 4.000 per kilogram, petani belum menikmati keuntungan, dimana biaya pupuk terus meningkat belum lagi biaya pemeliharaan," ungkap Perbekel Pupuan, I Wayan Sumatra, Selasa 27 September 2022. 


Lebih lanjut dikatakannya, nilai jual Rp 4.000 itu baru pada perkebunan yang aksesnya mudah dijangkau.

Sementara petani yang aksesnya sulit, yakni harus menuruni jalan setapak dan di kemiringan, biasanya hanya dihargai Rp 3.500 per kilogram oleh pengepul.

"Jika berbicara keuntungan, paling tidak per kilonya Rp 7.500. Jadi dengan harga saat ini, petani sangat dirugikan," tandasnya. 


 Pihaknya pun telah melakukan pendekatakan dengan pengepul. Namun, para pengepul mengaku tidak bisa berbuat banyak, mengingat ongkos angkut jeruk dari kebun ke pinggir jalan mengalami kenaikan.

Sehingga posisi petani ibarat simalakama. Artinya, jika tidak dijual dengan harga demikian, mereka justru akan semakin rugi. 

Baca juga: Harga Kedelai Impor Melonjak, Pedagang Bingung, Takut Pelanggan Kabur karena Ini


 "Kalau tidak dijual bakal rugi banyak, dijual juga harganya merosot tajam. Posisi petani yang paling dirugikan. Yang kasihan itu petani di pelosok. Saat angkut pupuk kena ongkos mahal dan saat jual komoditi juga kena ongkos," tandasnya.


Bukan hanya jeruk, Sumatra juga mengungkapkan kondisi tersebut terjadi pada komoditi sayuran dan buah, seperti pisang dan pepaya. Paling miris adalah, harga pepaya saat ini hanya Rp 1.000. 


"Sebagian besar kabun di pelosok. Beberapa ada yang angkut dengan sepeda motor. Namun kembali juga, kalau pakai motor, harga BBM naik, ongkos angkut juga naik," jelasnya lagi.


Kondisi tersebut sangat memperihatinkan. Sebab, dari jumlah penduduk Pupuan sebanyak 7.000 jiwa, sebanyak 70 persen bergantung dari pertanian tersebut.

Sebab, posisi desa ini sangat jauh dari pusat kota. "Mudah-mudahan situasi membaik. Sebab warga kami sangat bergantung pada hasil panen," tandasnya. (*)
 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved