Berita Buleleng

Harga Kedelai Impor Melonjak, Pedagang Bingung, Takut Pelanggan Kabur karena Ini

Harga Kedelai Impor Melonjak, Pedagang Bingung, Takut Pelanggan Kabur karena Ini

Tribun Bali
Foto: Ratu Ayu Astri Desiani/ Salah satu pengusaha tahu di Lingkungan Taman Sari, Kecamatan Buleleng. Harga kedelai impor saat ini melonjak.  

 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Harga kedelai impor lagi-lagi melonjak.

Saat ini tembus diangka Rp 12.600 per kilogram.

Kenaikan ini membuat sejumlah pengusaha tahu di wilayah Lingkungan Taman Sari, Kecamatan/Kabupaten Buleleng kebingungan.

Pasalnya, mereka tidak berani menaikan harga tahu lantaran khawatir kehilangan pelanggan. 

Hal tersebut dikeluhkan oleh salah satu pengusaha tahu di Lingkungan Taman Sari, bernama Irfan Efendi (30).

Harga kedelai dikatakan Irfan naik secara bertahap sejak awal September lalu.

Dari mulanya Rp 10 ribu per kilogram, kini telah mencapai Rp 12.600 per kilogram. "Sebelum BBM naik, harga kedelai sudah naik duluan," terangnya. 

Baca juga: Harga Kedelai Impor Naik, Ukuran Tahu dan Tempe Diperkecil


Akibat kenaikan harga kedelai ini, Irfan mengaku tidak berani menaikan harga tahunya, karena khawatir kehilangan pelanggan.

Dimana untuk satu ember tahu berisi 240 biji, ia jual seharga Rp 47 ribu. Sementara tempe per lonjor ukuran 1 kilogram, dijual dengan harga Rp 10 ribu. 


"Ukurannya tetap, tidak ada yang dikurangi. Sekali produksi itu biasanya menghabiskan 200 kilo kedelai.

Sampai sekarang sih pembeli masih ramai. Tidak masalah dapat untung sedikit, yang penting usahanya berputar terus. Untung juga harga kayu bakar belum naik," katanya. 


Mengingat harga kedelai impor terus melonjak, Irfan berencana akan mencoba memproduksi tahu dengan mencampurkan kedelai impor dan kedelai lokal.

Baca juga: AMPAG Desak Pemerintah Selesai Desember, Masyarakat Gilimanuk Pertanyakan Status Pelepasan HPL

"Paling bagus memang pakai kedelai impor. Tapi saya akan coba dicampur dengan kedelai lokal, karena harga lokal lebih murah. Hasilnya tetap bagus, tapi memang tidak sebagus pakai kedelai impor," tandasnya.


Sementara Kepala Dinas Dagrpinkop UKM Buleleng, Dewa Made Sudiarta hingga berita ini ditulis, belum dapat dikonfirmasi terkait penyebab kenaikan kedelai impor.

Sudiarta tidak mengangkat telpon dan menjawab pesan singkat yang dikirim Tribun Bali. (*) 

 

 

 


 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved