Bali United

Kiper Bali United M. Ridho Ingin Suporter Belajar Tragedi Kanjuruhan

Kiper Senior M. Ridho Ingin Suporter Belajar Tragedi Kanjuruhan, Yakin Suporter Bali United Dewasa & Tahu Rambu-rambu

Tribun Bali/Diky Setiawan
Muhammad Ridho, Kiper Bali United turut berduka atas Tragedi Kanjuruhan yang menyebabkan 153 korban jiwa, ini katanya. 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Kiper Bali United'> Bali United, Muhammad Ridho berharap tragedi kanjuruhan tidak lagi terulang, atau menjadi tragedi yang terakhir dalam sejarah sepak bola Indonesia dan hiburan sepak bola tak lagi merenggut nyawa penikmatnya.

Fanatisme buta membuat supporter acapkali bertindak di luar batas, respons atas kekecewaan yang berlebihan berimplikasi pada tensi kelompok supporter.

Supporter tidak seharusnya turun ke lapangan usai pertandingan meluapkan emosinya.

Kiper Senior M. Ridho Ingin Suporter Belajar Tragedi Kanjuruhan, Yakin Suporter Bali United'> Bali United Dewasa & Tahu Rambu-rambu

Begitupula aparat keamanan juga agaknya terlalu represif melontarkan gas air mata ke tribun penonton yang ruangnya terbatas dengan padatnya jumlah penonton, kemudian suporter panik berdesak-desakan hingga sesak napas bahkan sampai terinjak-injak, mirisnya lagi ada wanita dan anak-anak.

Ridho yang saat ini berseragam Bali United'> Bali United, bermarkas di Pulau Dewata, berharap, yakin dan optimis fans-fans semeton Serdadu Tridatu tidak bertindak di luar batas meskipun tim kebanggaanya sedang menderita kekalahan.

Bali United'> Bali United musim ini sudah mengalami 4 kekalahan dari 11 pertandingan, dua kekalahannya dialami di kandang Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, saat melawan Arema FC DAN Persikabo 1973.

“Saya yakin supporter Bali United'> Bali United dewasa semuanya, mereka mengerti dan tahu rambu-rambu dan bisa belajar dengan kejadian semalam,” ujar Ridho keppada Tribun Bali, pada Minggu 2 Oktober 2022.

Sepanjang karier sepak bola Ridho di tim professional, ia mmelihat tragedi Kanjuruhan ini menjadi tragedi terparah dalam sepak bola Indonesia hingga menewaskan 130 orang.

“Iya, Ini yang paling parah disamping sebelumnya kita pernah dibanned FIFA di tahun 2015 dan juga pandemi COVID-19, 2 tahun kemarin,” bebernya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved