Liga 1 2022

Fans Bali United: Rivalitas Hanya 90 Menit di Lapangan, Nyawa Lebih Penting dari Sepak Bola

Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, suporter Bali United Kadek Indra alias Gung Genji mendukung keputusan pemberhentian liga untuk sementara

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Ultras Garuda bersama gabungan elemen suporter di Bali, berjumlah puluhan, termasuk suporter Arema Dewata di Catur Muka, Denpasar, pada Minggu 2 Oktober 2022 malam mengadakan doa bersama atas Tragedi Kanjuruhan yang merenggut ratusan nyawa 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASARTragedi Kanjuruhan mengundang keprihatinan dari pecinta sepak bola di Indonesia, termasuk suporter di Pulau Bali.

Mereka berbelasungkawa atas kejadian di Malang yang menewaskan 127 orang, dan lebih dari 200 orang lainnya luka dalam laga Arema FC vs Persebaya, Sabtu 1 Oktober 2022 malam.

Tragedi ini juga berimbas pada operasional pelaksanaan Liga 1, atas kejadian ini, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan PT. Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator liga langsung mengambil sikap tegas menghentikan kompetisi Liga 1 2022/2023 selama sepekan.

Suporter Bali United Kadek Indra alias Gung Genji mendukung keputusan pemberhentian liga untuk sementara.

Baca juga: Sejarah Kelam Sepak Bola Indonesia dan Dunia,Ratusan Orang Tewas di Stadion Kanjuruhan Malang

Bahkan ia berharap ini menjadi pembelajaran untuk suporter bahwa rivalitas sejatinya hanya tersaji 90 menit di lapangan.

Atas dasar kemanusiaan, bukan persoalan laga Persita Tangerang versus Bali United 6 Oktober 2022 mengalami penundaan.

“Ya kita tunggu saja keputusan PSSI, karena kita sedang berduka atas meninggalnya suporter Arema. Semoga ini sebagai pembelajaran bagi suporter di Indonesia khusunya dalam hal ini di Malang. Bahwa nyawa dan keluarga lebih penting dari klub sepak bola. Ya, Liga layak disetop kalau bisa menunggu suporter saling berdamai agar tragedi ini tidak terulang lagi,” ungkap Gung Genji kepada Tribun Bali, Minggu 2 Oktober 2022.

Di samping itu, Gung Genji berharap tragedi ini tidak berimbas pada perjalanan Tiimnas yang sedang on fire dibawah asuhan Shin Tae-yong, selain itu, Indonesia juga bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.

“Semoga tidak dibanned oleh FIFA,” ujarnya.

Bagi Gung Genji sepanjang sepak terjangnya di dunia supporter, tragedi ini merupakan kasus paling parah, bahkan tragedi kanjuruhan menjadi salah satu tragedi kasus kematian supporter terbesar di dunia melebihi kengerian tragedi Hillsborough di Inggris tahun 1989 silam.

Di balik tragedi ini, sejatinya menonton sepakbola Indonesia di stadion mulai digandrungi wanita dan anak-anak, gaung tribun ramah wanita dan anak seketika tercoreng atas tragedi ini.

Salah satu suporter wanita Bali United, Rossy, yang sering melakoni AwayDays ini mengaku meskipun tragedi ini menjadi tragedi terparah dunia namun tidak mengurungkan niatnya untuk tetap hadir di stadion mmendukung Bali United kedepannya.

“Saya tidak takut untuk menonton di tribun stadion, karena suporter Bali United tidak pernah ada masalah sama suporter di luar Bali,” ungkapnya.

Rossy sebagai penonton perempuan berharap tragedi ini menjadi evaluasi dan dibenahi segala prosedur yang ada dan liga memang layak diberhentikan sementara.

Rossy mengkhawatirkan tragedi ini berdampak pada sepak bola nasional mendapat sanksi FIFA.

“Sebagai pecinta sepak bola semoga kedepan tidak terjadi lagi tragedi seperti ini, harus jadi suporter yang dewasa. Selain itu, keamanan juga harus diperketat lagi, laga layak disetop dulu sampai evaluasi dan prosedur sampai selesai, dan sampai aman” ujarnya.

“Itu yang saya takutkan, FIFA akan membekukan, ini tragedi berdarah sepanjang masa dalam sejarah,” pungkasnya. (*)

Kumpulan Artikel Liga 1 2022

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved