Berita Bali

Ini Penyebab Kematian Nomor Dua Setelah Kecelakaan Pada Usia Muda Menurut Psikiater Wiguna

Kasus bunuh diri belakangan ini marak terjadi khususnya pada usia yang cenderung masih muda.

TB/Istimewa
Ilustrasi Depresi 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Kasus bunuh diri belakangan ini marak terjadi khususnya pada usia yang cenderung masih muda.

Tekanan pada usia muda memang dinilai cukup besar. Hal tersebut yang mendorong angka bunuh diri juga kian tinggi.

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna Sp.KJ selaku Psikiater di Klinik SMC sekaligus Founder dari Rumah Berdaya Denpasar menuturkan, terlalu banyak tugas yang harus diemban pada usia muda.

Ilustrasi Depresi
Ilustrasi Depresi (TB/Istimewa)

“Memang tekanan pada anak usia muda cukup besar kalau kita lihat dari hal Psikologi memang pekerjaan rumah (PR ) nya anak muda terutama antara belasan, dua puluhan sampai tiga puluh itukan PR nya besar,” jelasnya pada, Senin 10 Oktober 2022.

Tugas-tugas tersebut pertamanya yakni bagaimana caranya agar dapat diterima oleh teman sebayanya.

Lalu kedua PR nya yakni bagaimana dapat menentaskan pendidikan pada bangku kuliah, diusia itu juga biasanya ada PR untuk memiliki penghasilan.

Bahkan diusia tersebut itu juga sudah ditanyakan terkait pasangan.

“Bayangkan satu dasawarsa PR nya banyak ‘banget’. Umur 10-20 tahun apalagi 30-40 tahun tidak terlalu banyak.

Memang paling banyak PR Psikologis itu 20-30 tahun.

Maka ada istilah ‘quarter life crisis’. Pentingnya tekanan mental atau resiliensi mental sehingga apapun PR-PR diusia tersebut bisa kita hadapi atau kita coba satu persatu,” imbuhnya.

Bahkan ia mengatakan bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua setelah kecelakaan pada usia muda.

Saat ini, dikatakan dr. Rai merupakan era dimana banyak orang yang tertekan dengan yang dinamakan culture-culture yang harus buru-buru atau tergesa-gesa.

Dimana harus segera menyelesaikan pendidikan, harus segera sukses dan ini yang sering menimbulkan tekanan-tekanan sehingga dapat menyebabkan depresi.

“Pesan saya sih bagaimana kita menggalakan ballance life untuk menjaga kesehatan jiwa. Seperti 8 jam untuk bekerja 8 jam istirahat atau tidur dan 8 jam untuk pengembangan diri olahraga dan sebagainya. Jadi tidak benar kata orang kalau makin panjang jam kerjanya makin produktif. Tidak ada dan tentu berpengaruh pada kesehatan jiwa,” tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved