Berita Gianyar
Keselamatan Pekerja Terancam Arus Sungai, Pelayanan Air di Gianyar Belum Normal
Kerusakan bangunan penangkap air (intake) milik PT Bali Bangun Tirta (BBT) di Sungai Tampus, Kecamatan Payangan masih mengganggu pelayanan air
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Harun Ar Rasyid
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Kerusakan bangunan penangkap air (intake) milik PT Bali Bangun Tirta (BBT) di Sungai Tampus, Kecamatan Payangan masih mengganggu pelayanan air Perumda Air Minum Tirta Sanjiwani Gianyar (dulu PDAM Gianyar).
Hal itu dikarenakan perbaikannya cukup sulit akibat hujan yang masih terus mengguyur.
Hujan mengakibatkan air deras dan membahayakan petugas.
Tirta Sanjiwani pun tak mau mengorbankan keselamatan pekerja.
Karena itu saat ini Tirta Sanjiwani menyiapkan empat unit mobil tanki air untuk diberikan secara gratis pada masyarakat terdampak.
Meskipun kondisi yang cukup rawan bagi keselamatan petugas. Namun informasi dari Perumda Air Minum Tirta Sanjiwani Gianyar, Selasa 25 Oktober 2022 menyebutkan sumber air BBT telah mulai memberikan layanan air. Dimana dalam kondisi normal, BBT biasanya menyuplai sebesar 155 liter per detik, kini hanya menyuplai paling besar 90 liter per detik, sehingga pelayanan air ke antar zona terdampak dibagi atau diatur jamnya.
Dirut Perumda Air Minum Tirta Sanjiwani Gianyar, Made Sastra Kencana membenarkan hal tersebut. Dia menjelaskan, lamanya normalisasi pelayanan ini karena berbagai hal. Di antaranya, akibat pintu air kisdam hanyut terbawa banjir. Pintu air tersebut sangat vital, karena berfungsi menahan air untuk meninggikan permukaan sungai dan menutup air sungai agar masuk ke intake.
Persoalan lainnya adalah kondisi cuaca. Dikarenakan kawasa Sungai Tampus hampir setiap hari diguyur hujan, mengakibatkan air sungai sangat tinggi dan arusnya deras. Karena itu, pekerjapun kesulitan. Pihaknya tak ingin memaksanakan pekerja, karena ditakutkan pekerja hanyut terbawa arus sungai.
"Kerusakan terjadi pada pintu airnya yang hanyut. Mata airnya juga putus karena terendam. Juga kita kesulitan turun ke sungai karena risiko pekerja hanyut. Kami tak mau mengorbankan keselamatan pekerja, jadi kita lakukan perbaikan semampunya. Mohon dimaklumi dulu jika airnya masih kotor. Karena pekerjaannya cukup berat," ujar Sastra.
Sastra mengatakan, jika saja dalam satu pekan ke depan tidak turun hujan, maka ia memastikan dalam sepekan ini pelayanan akan normal. "Estimasi kita satu minggu normal pelayanan kita, itu kalau tidak hujan. Kalau pun hujan, supaya tidak menyebabkan air sungai berlumpur," ujarnya.
Adapun zona yang paling terdampak adalah Banjar Petulu Gunung, Desa Petulu, Ubud. Hal itu dikarenakan di kawasan tersebut tak terdapat penyuplai air alternatif seperti di kawasan lain. Karena itu, sejak 17 Oktober sore sampai 23 Oktober kemarin, pelanggan di Banjar Petulu Gunung terus dibawakan air tanki. "Kebetulan Senin kemarin kami tidak suplai air tanki ke sana, karena tak ada permintaan dari warga (Petulu Gunung). Mungkin mereka sudah memiliki stok, karena setiap hari dari 17 Oktober sore hingga Minggu kemarin kita kirimkam air tanki," ujar Sastra.
Sastra meminta pada masyarakat agar menginformasikan jika di banjarnya tak mendapatkan air sama sekali, supaya pihaknya bisa menyiapkan truk tanki. "Kami minta pada masyarakat agar menginfokan dimana sama sekali tak ada air. Agar kami kirimkan tanki. Kita siapkan 4 tanki. Milik kita 2 dan sewa lagi 2. Kalau memang tak cukup dengan 4 tanki ini, kita berusaha sewa agar cepat pelayanan kita," kata Sastra. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Foto-SDASDASDADS.jpg)