Berita Nasional

Dalam 20 Tahun Terakhir Impor Gandum Naik di Indonesia Jadi 12 Juta Ton

Menteri PPN atau Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyatakan dalam 20 tahun terakhir impor gandum naik di Indonesia jadi 12 juta ton.

Grid.ID
Ilustrasi Gandum - 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Menteri PPN atau Kepala Bappenas Suharso Monoarfa membuka acara Indonesia Development Forum 2022 di Bali pada Senin 21 November 2022.

Dalam sambutannya, Suharso turut menyampaikan Indonesia terlalu cepat kembali menjadi negara trader.

Menurutnya perdebatan antara maker atau trader masih terjadi di Indonesia. 

“Dan Indonesia akan jadi maker atau trader, kalau mau membuat suatu barang, kebutuhan suatu barang, kalau lebih murah beli, kenapa harus bikin. Punya product knowledge yang bagus, maka dia jualan, bukan maker. Ini yang kita khawatirkan, atau kalau tidak insinyur, jadi pemikir,” jelasnya. 

Tantangan ke depannya, Suharso mengatakan pada keinginan kebutuhan gaya hidup dan kebutuhan yang sehat, terutama dalam hal makanan minuman.

Indonesia termasuk negara yang sangat tidak hemat dalam hal makanan, 30 persen makanan di Indonesia tidak selesai di piring dan menjadi sampah.

Ini luar biasa, maka sekarang orang bergerak ke jenis-jenis makanan yang lebih sehat dan selesai di-digest dengan baik.

“Makanan juga sekarang, kayak saya misalnya, saya sudah menghindari tepung terigu. Pertama, karena impornya di Indonesia makin hari makin naik, menggantikan beras. Indonesia sekarang adalah salah satu negara gandum tidak bisa tumbuh dengan baik, tapi kita pemakan gandum. Dalam 20 tahun terakhir, impor gandum naik luar biasa, dari 2 juta ton, sekarang sudah 12 juta ton dan rata-rata 8 kilogram per kapita, sekarang 33 kilogram,” sambungnya. 

Baca juga: Bappenas Yakin Transformasi Ekonomi Dapat Hadapi Resesi Ekonomi 2023 Mendatang

Saat ini makanan lebih murah, lebih gampang juga dalam penyajiannya.

Selain itu makanan saat ini juga tahan kenyang.

Makanan tahan kenyang disini seperti long chain triglycerides, atau tahan 2-3 hari di perut di-digest.

Sementara sekarang orang sudah berubah, sekarang orang makan di medium chain triglycerides, bahkan sekarang orang berpikir bagaimana short chain. 

“Saya tidak tahu apakah itu terjadi atau tidak. Tapi, makanan sudah seperti itu, orang sudah milih. Triglycerides, kita tahu memang tidak dikehendaki di badan kita, meskipun beberapa persen kita masih butuh,” tandasnya. 

Maka, kita harus menjawab reindustrialisasi dari sekarang. Itu akan berbeda, industrialisasi ke depan harus menjawab kebutuhan lifestyle baru, yang sustainable, smart, and functional.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved