Gempa Cianjur

Gempa Cianjur Sebabkan 284 Meninggal Dunia, Bocah Azka Lolos dari Maut

gempa Cianjur menyebabkan ratusan bangunan hancur dan ratusan menjadi korban, 284 korban meninggal dunia

Istimewa
Kondisi lingkungan dan para korban akibat terdampak gempa bumi Cianjur - Gempa Cianjur Sebabkan 284 Meninggal Dunia, Bocah Azka Lolos dari Maut 

Bintang mengatakan, pemetaan di 11 titik lokasi pengungsian diperlukan untuk pendampingan psikososial.

"Namun, dalam melakukan ini, KemenPPPA tidak bisa bekerja sendirian, butuh adanya kehadiran dari pemerhati perempuan dan anak untuk pendampingan psikososial," ujar menteri asal Bali ini, Rabu 23 November 2022.

Dirinya juga meminta agar tempat pengungsian harus ramah perempuan dan anak, seperti toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Lalu penerangan yang baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, hingga dapur umum yang sudah berperspektif perempuan dan anak.

"Saya menyampaikan rasa prihatin, dan duka cita yang mendalam atas terjadinya bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur Jawa Barat, apalagi berdasarkan data sementara yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur, mayoritas korban merupakan anak-anak," ucap Bintang.

Bintang mengunjungi lokasi bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Selasa 22 November 2022.

"Kedatangan saya ini adalah untuk meninjau langsung situasi di lokasi bencana untuk memastikan para pengungsi, khususnya perempuan dan anak, bisa mendapatkan penanganan yang baik,” ujar Bintang.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah saat ini fokus mengutamakan evakuasi korban, baik korban luka maupun yang meninggal.

Muhadjir mengatakan sejauh ini titik evakuasi masih dapat terjangkau oleh tim SAR.

"Sejauh ini tidak ada kendala dalam proses pencarian karena titik evakuasi masih bisa dijangkau," ujar Muhadjir. (Tribun Network/fah/ras/rin/wly)

Ciri Rumah Tahan Gempa

GEMPA bumi yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengakibatkan puluhan ribu bangunan hancur dan roboh.

Konstruksi bangunan tahan gempa pun kini muncul kembali untuk membantu masyarakat agar terhindar dari kerusakan bangunan saat kondisi gempa.

Kelompok keahlian (KK) Teknologi Bangunan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Sugeng Triyadi menyampaikan masyarakat saat ini lebih cenderung ingin memiliki rumah gedung atau rumah tembok dan meninggalkan rumah kayu lantaran gaya hidup dan sebagainya.

Padahal, katanya, rumah kayu merupakan rumah kearifan lokal Sunda (Jabar) dan tahan akan bencana gempa, karena sambungan kayu yang dipasak dan dibaut ketika ada terjadi gempa hanya bergerak dan tak akan lepas atau runtuh.

"Tapi, kalau dari bata atau beton itu kan sifatnya kaku sekali. Jadi, bisa menyebabkan retak ketika ada gerakan. Dan biasanya kesannya rumah kayu itu ketinggalan zaman. Lalu, sekarang tukang yang membuat rumah tembok ya asal pasang saja atau saya menyebutnya non engineer, karena mereka enggak mendapat pendidikan soal rumah tahan gempa," katanya saat dihubungi, Rabu 23 November 2022.

Ketika zaman Belanda atau era 60an, lanjutnya, masih ada sekolah pertukangan atau bahasa Belandanya, Ambah School yang mendidik untuk menjadi tukang yang mengetahui persis dalam memasang bata dan beton.

Tetapi, di era saat ini tukang tak mengetahui caranya sehingga yang terjadi seperti di Cianjur rumah banyak yang hancur tak tahan gempa.

Lalu, bagaimana ciri-ciri rumah atau bangunan yang tahan gempa?

Prof Sugeng menjelaskan, bangunan itu harus ada penguatnya, semisal harus ada tiang betonnya.

Dia menyebut rumah saat ini tak ada tiangnya sehingga hanya bata bertemu bata.

Meskipun ada batanya hanya dirangkap menjadi dua kali ukurannya dan menjadi pilar bata, tetapi bukan beton.

"Rumah tahan gempa itu harus ada tulangan-tulangan betonnya. Harus ada rangka betonnya, batu batanya hanya mengisi dan tak menahan beban, tetapi yang menahan beban itu tiangnya atau kolom-kolomnya," ujarnya.

Sehingga rumah atau bangunan tahan gempa, lanjutnya, ada tiang kolomnya dan tiang betonnya.

Selain itu, ada pondasinya yang cukup kuat, dan besi beton harus masuk ke dalam pondasi yang tak hanya sekedar disimpan.

Ketika ada tiang, maka tiangnya itu nanti berdiri di atas pondasi dan harus ada balok sloof yang ukurannya sekitar 15x20 cm dan harus mengelilingi atau menutup semuanya seperti ring.

"Jika bangunannya besar maka di bagian tengahnya itu harus ada ikatan bawah yang menghubungkan antartiang-tiang dan terus ada sloof-nya. Lalu, di atas sloof dipasangi bata," katanya.

Belanjut ke bagian atas bangunan, di bagian atas pintu dan jendela dipasangi balok mengelilingi seperti sloof yang dinamakan ring balok.

Jika bangunannya itu lebar, Prof Sugeng mengatakan tengahnya harus ada yang melintang, lalu kuda-kuda menumpu di atasnya bukan di atas tembok melainkam di kerangka beton.

"Atapnya pun harus mengikat ke ring balok atau kolom. Harus diikat bukan hanya disimpan supaya menempel. Nah, sekarang kan ada baja ringan yang hanya disimpan dan enggak mengikat, maka ketika ada goyangan gempa material itu akan jatuh. Sama halnya dengan kayu jika tak diikat kuda-kuda atap kerangka ke ring balok maka akan copot," ujarnya seraya menyebut kuda-kuda diletakkan di kolomnya maka tak akan menambah beban.

"Jika panduan ini diikuti dengan baik, saya yakin akan tahan gempa, meski berada di patahan sesar. Ketika memasang tembok itu harus menempel ke tiang yang diberi tulangan beton dan masuk ke tembok sekitar 30 sentimeter. Dari tiang diberi sisa tulangan yang masuk ke tembok, lalu di bawah sloof diberi tulangan yang menonjol ke luar dan masuk ke tembok agar tembok tak roboh saat gempa," ucapnya.

Selanjutnya, ketika membuat jendela yang besar jika tak sampai ke atas, maka di atas jendelanya diberi balok beton, jika tidak maka tembok akan ditahan oleh kusen langsung.

Balok beton itu pun bisa berfungsi sebagai ring balok yang menambah kuat bangunan.

"Tembok harus menempel ke tiang. Jika tembok besar lebih dari 12 m2;, maka diberi lagi tiang kecil di tengahnya seukuran tembok itu dan saya menyebutnya kolom praktis untuk ikut menahan," katanya.

Hal terpenting lainnya, kata Prof Sugeng usahakan bentuk bangunan itu simetris atau geometris untuk menetralisasi ketika ada gempa.

"Jika tak berbentuk tersebut maka akan saling kontradiksi dan terjadi retak. Tipe-tipe rumah ini bisa terlihat di rumah-rumah Belanda, seperti di Jalan Dago, Bengawan, dan lainnya," katanya. (tribunjabar)

Kumpulan Artikel Gempa Cianjur

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved