Berita Bali

Jaga Keaslian Kebudayaan Bali Dari Globalisasi, MKB Adakan Pasamuhan Agung 

Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali adakan Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali Tahun 2022, jaga keaslian kebudayaan Bali dari Globalisasi.

ist
Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali mengadakan Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali Tahun 2022 pada, Sabtu 26 November 2022.  

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali mengadakan Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali Tahun 2022 pada, Sabtu 26 November 2022. 

Ketika ditemui, Ketua MKB Bali, Prof. DR. I Komang Sudirga mengatakan MKB merupakan transformasi dari Listibiya yang berdiri tahun 1967 silam.

Namun karena adanya Perda Nomor 4 Tahun 2020 maka Listibiya bertransformasi menjadi Majelis Kebudayaan Bali Tingkat Provinsi Bali. 

“Tugasnya (MKB) mengawal Bali agar terjaga dari perubahan arus globalisasi yang sangat keras mengancam kebudayaan Bali. Jadi ada juga beberapa hal yang perlu dirumuskan kembali tentang konsep-konsep mengenai ‘balih-balihan’ menjadikan Budaya sebagai penguat sesuai dengan tema itu menguatkan spirit kehidupan taksu Bali,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Arya Sugiartha mengatakan nantinya kinerjanya dari MKB ini berkembang.

Dan nantinya akan berpartner kerja dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali

“Makanya majelisnya ada 7 orang dimana ada sulinggih, akademisi ada juga budayawan dan sebagainya. Itu yang akan membantu Disbud untuk mengadakan kajian-kajian, penelitian, tentang bagaimana kita menguatkan dan memajukan kebudayaan Bali dan itu dibiayai oleh Pemprov Bali melalui anggaran Disbud Bali maka kegitannya selalu bersinergi dengan Disbud Bali,” ungkap, Sugiartha. 

Nantinya setiap tahunnya acara ini dianggarkan di Disbud Provinsi Bali.

Baca juga: Gubernur Bali Wayan Koster dan Kapolda Bali Tandatangani Nota Kesepahaman Pengembangan Smart City

Akan ada tugas tambahan termasuk pemetaan seni-seni langka.

Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster mengatakan di Bali secara tradisional khususnya didesa adat sudah memiliki Sanggar atau Lembaga Seni yang berjalan secara rutin mulai dari anak-anak sampai dewasa. 

“Jadi regenerasi seni Bali sudah tumbuh dari anak-anak. Dan ada lomba-lomba seni, juga ada PKB makin menggairah. Seni kebudayaan ini betul-betul bisa survive karena budayanya. Saya ingatkan Bali tidak punya tambang emas, batubara, gas dan emas dan tambang-tambang lainnya Bali hanya punya kekayaan budaya. Karena kita memiliki kekayaan ini harus bekerja pemimpin dan masuarakatnya secara bersama-sama bagaimana merawat budaya agar tetap eksis survive sepanjang jaman dari generasi ke generasi,” tutup, Koster. (*) 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved