Berita Nasional

Ketua MPR RI Tekankan Pemanfaatan Digitalisasi Sebagai Ruang Kreatif Pengembangan Wirausaha

Kebijakan Presiden Joko Widodo yang tidak menerapkan lockdown, adalah pilihan yang tepat untuk membuat ekonomi tetap bergerak walaupun tersendat.

Yunia/Tribun Bali
H. Bambang Soesatyo saat mengisi materi dan diwawancarai terkait pentingnya UMKM dalam pergerakan roda ekonomi Indonesia pasca pandemi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat ini Indonesia tengah memasuki era pasca pandemi Covid-19, dan kondisi ekonomi hari ini berangsur-angsur mulai pulih membaik.

Semangat yang sama muncul, untuk menghadapi pandemi sebagai suatu yang tidak membahayakan namun tetap harus diwaspadai.

Kebijakan Presiden Joko Widodo yang tidak menerapkan lockdown, adalah pilihan yang tepat untuk membuat ekonomi tetap bergerak walaupun tersendat.

Baca juga: Exim Bank Se-Asia Gelar Pertemuan di Malaysia, Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Pasca Pandemi

Baca juga: Mendukung Stabilitas Keuangan Lembaga Perkreditas Desa Pada Pada Masa Pandemi & Krisis Energi Dunia

Saat ini Indonesia tengah memasuki era pasca pandemi Covid-19, dan kondisi ekonomi hari ini berangsur-angsur mulai pulih membaik.

Semangat yang sama muncul, untuk menghadapi pandemi sebagai suatu yang tidak membahayakan namun tetap harus diwaspadai.

Kebijakan Presiden Joko Widodo yang tidak menerapkan lockdown, adalah pilihan yang tepat untuk membuat ekonomi tetap bergerak walaupun tersendat.
Saat ini Indonesia tengah memasuki era pasca pandemi Covid-19, dan kondisi ekonomi hari ini berangsur-angsur mulai pulih membaik. Semangat yang sama muncul, untuk menghadapi pandemi sebagai suatu yang tidak membahayakan namun tetap harus diwaspadai. Kebijakan Presiden Joko Widodo yang tidak menerapkan lockdown, adalah pilihan yang tepat untuk membuat ekonomi tetap bergerak walaupun tersendat. (Pixabay)

Hal ini dijelaskan Ketua MPR RI, H. Bambang Soesatyo, saat memamparkan materi dalam Studium Generale III bersama Universitas Terbuka di Bali, 27 November 2022.

Melanjutkan penjelasannya, Bambang Soesatyo mengatakan, sebagian ekonom menyatakan bahwa kondisi resesi global tahun depan 2023 akan ditandai dengan inflasi dan ketegangan geopolitik.

“Untuk peminjam uang di bank harus hati-hati, karena bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk menghadapi inflasi yang tak terkendali.

Kemudian adanya krisis yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik yang paling menonjol, adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina,” jelas Bambang Soesatyo.

Dampak resesi dipengaruhi oleh daya beli atau konsumsi masyarakat, yang terus menurun yang menyebabkan cashflow pada suatu perusahaan.

Ilustrasi suku bunga - Dampak resesi dipengaruhi oleh daya beli atau konsumsi masyarakat, yang terus menurun yang menyebabkan cashflow pada suatu perusahaan.
Ilustrasi suku bunga - Dampak resesi dipengaruhi oleh daya beli atau konsumsi masyarakat, yang terus menurun yang menyebabkan cashflow pada suatu perusahaan. (kompas.com)

Imbasnya pada pemangkasan biaya operasional atau dengan terpaksa melakukan PHK.

“Itu ancaman, tetapi kalau kita kreatif tidak perlu takut untuk kehilangan lapangan pekerjaan karena dengan digitalisasi kit bisa mencetak uang,” tuturnya.

Ada kekuatan baru yang muncul pada era kali ini yaitu kekuatan akibat lahirnya digitalisasi dari generasi muda.

Upaya ini kemudian mengarah kepada pentingnya pengembangan UMKM di Indonesia.

Produk UMKM penting dalam perekonomian Indonesia, karena kontribusinya yang besar terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan dan PDB Indonesia.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi pada tahun 1998, tidak mampu memengaruhi ekonomi Indonesia karena muncul banyak UMKM.

H. Bambang Soesatyo saat mengisi materi dan diwawancarai terkait pentingnya UMKM dalam pergerakan roda ekonomi Indonesia pasca pandemi.
H. Bambang Soesatyo saat mengisi materi dan diwawancarai terkait pentingnya UMKM dalam pergerakan roda ekonomi Indonesia pasca pandemi. (Yunia/Tribun Bali)

 

Krisisi hanya dirasakan oleh pengusaha besar, sementara pengusaha pengusaha kecil malah tumbuh, berkembang, dan menjadi pengusaha pengusaha besar.

Saat ini jumlah wirausaha di Indonesia baru mencapai 3,47 persen dan masih jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang jumlahnya mencapai 11,5

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved