Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Piala Dunia 2022 Qatar

Preview Inggris vs Wales Piala Dunia 2022: Lebih Baik Perang di Lapangan daripada Perang Sungguhan

Pada 30 November 2022 nanti, tim Wales akan berhadapan dengan tim England pada lanjutan laga di Grup B Piala Dunia 2022 Qatar. Simak previewnya.

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
RYAN PIERSE / GETTY IMAGES EUROPE / GETTY IMAGES VIA AFP
Para pemain Timnas Inggris usai laga melawan USA di penyishan Grup C Piala Dunia 2022. Inggris akan melawan Wales pada laga ketiga penyishan Grup, 30 November 2022 mendatang 

TRIBUN-BALI.COM, DOHA - Pada 30 November 2022 nanti, tim Wales akan berhadapan dengan tim England pada lanjutan laga di Grup B Piala Dunia (FIFA World Cup) 2022 Qatar.

Bagi sejumlah orang, ini adalah laga yang aneh di ajang Piala Dunia di mana tim-tim yang bertanding mewakili negara masing-masing. Untuk diketahui, England dan Wales sebetulnya sama-sama dari negara yang sama, yakni United Kingdom atau Inggris Raya.

Tetapi, demikianlah kenyataan di Piala Dunia selama ini.

Empat tim dari satu negara Inggris Raya (yakni England, Walas, Skotlandia, Irlandia Utara) sama-sama diberi kesempatan FIFA untuk memperebutkan tiket ke Piala Dunia.

Baca juga: Piala Dunia 2022, Timnas Kamerun Punya Misi Untuk Menang Kala Melawan Timnas Serbia

Bagaimana andaikata hanya ada satu tim Inggris Raya saja di Piala Dunia, yang merupakan peleburan dari empat tim tersebut ?

Konsekuensinya bisa berat. Bahkan bisa saja terpicu perang saudara.

Oleh karena itu, pilihannya adalah lebih baik perang saudara di lapangan bola daripada perang saudara sungguhan.

Mengapa bisa demikian?

Memang, tidak sedikit yang penasaran mengapa negara Inggris Raya (United Kingdom) diizinkan oleh FIFA memiliki tim-tim yang berbeda di Piala Dunia (FIFA World Cup), kok tidak satu tim saja atas nama Inggris Raya.

Bahkan tidak hanya di Piala Dunia, di ajang EURO pun tersedia empat tiket untuk masing-masing empat wilayah otonomi di Inggris Raya itu (yakni England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara).

Padahal, pasal 11 paragraf 1 aturan FIFA menyebutkan: "Hanya satu asosiasi (sepak bola) yang diakui sebagai asosiasi anggota (FIFA) di setiap negara.”

Mengingat FIFA mendefinisikan "negara" sebagai "negara merdeka yang diakui oleh komunitas internasional", maka semestinya hanya ada satu tim untuk negara Inggris Raya di Piala Dunia, bukan lebih dari satu tim seperti saat ini.

Di kursi keanggotaan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), misalnya, hanya ada satu kursi untuk Inggris Raya.

Baca juga: Piala Dunia 2022, Timnas Serbia Akan Coba Jegal Timnas Kamerun Hari Ini

Demikian pula, kontingen yang tampil di Olimpiade adalah atas nama Inggris Raya. Tidak ada kontingen England (biasa diterjemahkan “Inggris” saja), Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Jadi, ada kesan bahwa FIFA menganakemaskan Inggris Raya, dan diskriminatif terhadap negara-negara lain.

Lihat saja, pasal 11 paragraf 1 aturan FIFA tersebut di atas ternyata tunduk pada paragraf 5 dari pasal sama, yang berbunyi: “Masing-masing dari empat asosiasi sepak bola Inggris Raya diakui sebagai asosiasi anggota FIFA yang terpisah.”

Sebelum membahas tentang sebab adanya privilege Inggris Raya di Piala Dunia, kita ulas dulu tentang istilah Inggris dan Inggris Raya.

Perlu diketahui, yang selama ini orang awam sebut sebagai negara Inggris sebetulnya merupakan negara kepulauan yang berada di lepas pantai barat laut Eropa. Ada sekitar 600-an pulau di negara Inggris, dan sebagian besar merupakan pulau-puau kecil (isle).

Di negara kepulauan itu terdapat dua pulau yang gede. Pulau yang terbesar ialah Great Britain (great berarti besar atau raya), kemudian disusul Irlandia.

Di pulau bernama Great Britain itu terdapat tiga wilayah otonomi yakni England, Wales dan Skotlandia. Wilayah otonomi itu kurang-lebih seperti negara bagian di Amerika Serikat.

Dengan demikian, jelas bahwa England, Wales dan Skotlandia bukanlah negara.

Nama resmi negara Inggris sebetulnya panjang sekali, yakni United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland. Terjemahannya: Persatuan Kerajaan Britania Raya dan Irlandia Utara.

Baca juga: Piala Dunia 2022, Membawa Berkah Bagi Hakim Ziyech, AC Milan Semakin Tertarik

Akan tetapi, secara umum dalam forum/pergaulan internasional, nama United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland biasa disebut secara singkat sebagai United Kingdom, Britain bahkan cuma UK saja.

Terus apa terjemahan England?

Merangkum dari sejumlah sumber, ada yang menerjemahkan United Kingdom sebagai Inggris Raya, Great Britain diterjemahkan Britania Raya, dan England sebagai Inggris.

Dalam konteks tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa United Kingdom (UK) atau Inggris Raya adalah satu negara berdaulat yang di dalamnya mencakup England (Inggris), Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Sedangkan Britania Raya atau Great Britain ialah sebuah pulau terbesar di dalam wilayah negara Inggris Raya.

Sementara Inggris (England) adalah satu dari empat wilayah otonomi di negara Inggris Raya (United Kingdom) selain Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara.

Sejarah Munculnya Privilege

Dalam artikelnya di The Sun 13 November 2022 lalu, Jude Efson menulis bahwa selama bertahun-tahun, sebagian penggemar sepak bola di negara Inggris Raya sebetulnya sangat mengharapkan para pemain kelas dunia dari England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara bermain bersama di satu tim atas nama Inggris Raya.

Mereka bahkan berangan-angan, andaikata di Piala Dunia 2022 Qatar, Gareth Bale (yang asal Wales) bisa satu tim dengan duo England, Harry Kane dan Raheem Sterling, di timnas Inggris Raya, wow betapa akan luar biasa kekuatan serang dari tim Inggris Raya.

Namun, harapan tinggal harapan, dan angan-angan jelas bukanlah kenyataan.

Menurut Thomas Smith dalam tulisannya “Why Does Great Britain Have Separate Football Teams?” di www.sqaf.club, asal-usul turnamen sepak bola internasional (tentu termasuk kejuaraan dunia sepak bola, red) adalah dari Inggris Raya pada akhir abad ke-19. Persisnya tahun 1872.

Bahkan ada yang menulis, sejak tahun 1883 Skotlandia bersama England (Inggris), Wales dan Irlandia sudah memainkan turnamen internasional bersama di antara mereka.

Mereka bahkan membentuk asosiasi sepak bola internasional pertama di dunia, yang disebut The International Football Association Board (IFAB) pada tahun 1886, dan beranggotakan empat entitas tersebut.

Sementara itu, FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia baru lahir pada 21 Mei 1904.

Artinya, dari sisi sejarah, sepak bola dan kejuaraan sepak bola internasional itu bercikal bakal dari Inggris Raya.

Cika bakal di sini termasuk yang terkait dengan tetek bengek sepak bola, salah-satunya seperti aturan pertandingan. Di Inggris Raya juga hal-hal tersebut dicetuskan.

Bahkan, ketika FIFA lahir, justru organisasi sepak bola dunia ini mencontek aturan-aturan sepak bola yang disusun oleh keempat pelopor tersebut, yakni Inggris (England), Skotlandia, Wales dan Irlandia.

Keempatnya kemudian disebut FIFA sebagai Home Nations, yang diartikan sebagai Negara-negara Asal Sepak Bola.

Dengan kata lain, organisasi FIFA sebetulnya yunior dibandingkan dengan asosiasi sepak bola Home Nations. Pengalaman dan “jam terbang” FIFA sebagai organisasi sepak bola kalah lama dibandingkan dengan Home Nations.

Dengan alasan historis tersebut, saat FIFA berdiri, organisasi ini pun sungkan dan memberi privilege atau keistimewaan kepada asosiasi sepak bola England (Inggris), Wales, Skotlandia dan Irlandia, sehingga FIFA menerima begitu saja saat mereka berempat mendaftarkan diri sebagai entitas (tim) yang berbeda, yang itu berlaku hingga saat ini.

Kenyataan tersebut sudah berjalan ratusan tahun, dan sepertinya mustahil untuk direformasi.

Bisa saja, dengan kekuatan politik, pemerintah pusat Inggris Raya memaksakan membentuk satu tim nasional (timnas) sepak bola Inggris Raya, yakni dengan melebur tim-tim England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara menjadi satu tim. Dan itu sudah terjadi di ajang Olimpiade 2012 di London.

Baca juga: Prediksi Skor Kamerun vs Serbia, Luka Jovic Berpeluang Starter, Peluang Menang Terbuka

Saat itu, di cabang sepak bola Olimpiade, Inggris Raya diwakili satu tim nasional.

Tidak ada tim-tim terpisah England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara.

Namun, Piala Dunia (FIFA World Cup) ternyata spesial dan kasus yang berbeda.

Di Piala Dunia, masing-masing asosiasi sepak bola Home Nations (England/Inggris, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara) teryata bertahan untuk tetap menampilkan tim-timnya sendiri.

Prestise cabang olah raga sepak bola di Olimpiade dianggap lebih rendah dibandingkan prestise Piala Dunia.

Jangan coba-coba mengutak-atik komposisi itu, dan memaksakan Inggris Raya tampil sebagai satu timnas di Piala Dunia.

Akan menjadi isu politik apabila pemerintah Inggris Raya memaksa menggabungkan empat tim jadi hanya satu tim Inggris Raya. Semangat suku-bangsa Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara bisa terpicu bangkit, dan terbuka kemungkinan mereka menuntut pemisahan diri dari Inggris Raya, khususnya Skotlandia yang berpotensi lebih besar.

Melebur tim-tim sepak bola dari empat Home Nations menjadi satu tim Inggris Raya juga bertentangan dengan tren desentralisasi politik untuk mereka, demikian kata William Allen dalam artikelnya yang berjudul “Why do England, Scotland, Wales & Northern Ireland play as separate teams if they belong to UK?” di www.en.as.com pada 12 Juni 2021.

Pengamat bola Szymanski bahkan percaya, memaksakan pembentukan satu timnas Inggris Raya akan berkontribusi pada pecahnya negara kesatuan Inggris Raya.

Andaikata Inggris Raya benar-benar menekan FIFA, sehingga akhirnya hanya ada tim Inggris Raya yang tunggal di Piala Dunia daripada memiliki empat tim Home Nations seperti selama ini, “maka Skotlandia akan benar-benar menuntut kemerdekaan,” ucap Szymanski sebagaimana dikutip oleh www.allfootballapp.com.

Szymanski menyebutkan, rakyat Skotlandia telah mengadakan referendum kemerdekaan (untuk pisah dari Inggris Raya) pada tahun 2014 lalu, dan suara pro-kemerdekaan hanya kalah tipis dari suara pro-Inggris Raya.

Kalau dipaksakan membentuk satu tim Inggris Raya, kata Szymanski, maka kemungkinan pendukung kemerdekaan Skotlandia akan bertambah dan bisa-bisa wilayah itu benar-benar lepas dari Inggris Raya.

Menurut Szymanski, mempertahankan tim sepak bola masing-masing Home Nations adalah salah-satu cara yang tepat untuk mengekspresikan kebanggaan masing-masing suku bangsa di Inggris Raya.

Kalau satu-satunya cara untuk mengekspresikan kebanggaan itu juga ditindas, ucap Szymanski, maka akan sangat banyak yang mendukung kemerdekaan Skotlandia.
“Saya tidak ragu tentang hal itu,” tandas Szymanski.

Presiden FIFA Gianni Infantino pun telah meyakinkan asosiasi sepak bola Home Nations (khususnya Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara) bahwa tampilnya tim Inggris Raya di cabang sepak bola putra Olimpiade tidak akan mengingkari dan menghapus ratusan tahun sejarah yang dibuat oleh Home Nations.

Maksudnya, Gianni mau mengatakan bahwa meskipun bisa saja kelak keikutsertaan Tim Inggris Raya di cabang sepak bola Olimpiade menjadi rutinitas, itu tak mengubah posisi Home Nations di ajang Piala Dunia (FIFA World Cup).

“Keterlibatan Inggris Raya di cabang sepak bola putra di Olimpiade tak akan membahayakan ratusan tahun sejarah yang sudah ditoreh oleh empat Home Nations,” kata Gianni seperti dikutip www.en.as.com.(sunarko)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved