Berita Tabanan

Panen Padi di Jatiluwih, Tabanan, Bali Turun Satu Ton Per Hektare Akibat Curah Hujan Tinggi

Panen Padi di Jatiluwih, Tabanan, Bali turun satu ton per hektare dibanding tahun 2021 akibat curah hujan tinggi.

Tribun Bali/Angga
Panen Padi di Subak Jatiluwih, Kamis 1 Desember 2022. Panen Padi di Jatiluwih, Tabanan, Bali turun satu ton per hektare dibanding tahun 2021 akibat curah hujan tinggi. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Masa tanam padi di Jatiluwih ada dua masa. Pertama masa tanam padi biasa atau bukan padi bali, yang menghasilkan beras biasa. Untuk masa tanam padi bukan padi bali ini, mengalami penurunan hasil panen.

Dari 227,41 hektare yang ditanam turun satu ton per hektare dibanding tahun 2021 lalu. Sedangkan masa tanam padi bali, biasanya mulai tanam pada awal Januari. Faktor cuaca atau hujan dengan intensitas tinggi membuat hasil panen padi di Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel Tabanan menurun

Pekaseh Subak Jatiluwih I Wayan Mustra mengatakan, bahwa memang dalam aturan subak setiap bulan Agustus petani bebas menanam jenis padi yang lain. Pada Januari, barulah diharuskan menanam padi Bali.

Nah, dari periode panen tahun sebelumnya, per hektare sawah mendapat sekitar enam ton padi. Saat ini, hanya sekitar lima ton, atau turun satu ton per hektare. Yang paling banyak terdampak adalah petani yang menanam varietas baru seperti inpari ciherang dan cigeulis.

“Jadi dalam pembuahan banyak yang gagal. Atau serbuk sari hanyut tidak ada penyerbukan,” ucapnya Kamis 1 Desember 2022.

Mustra mengaku, pada masa panen padi yang mengalami penurunan ini, pihaknya sudah melapor ke dinas pertanian. Dan dari PPL sudah mendampingi.

Dan memang faktor hujan cukup tinggi, menjadi penyebabnya. Ia meyakini cuaca, dikarenakan ada beberapa padi yang berbuah lebih awal dengan hasil yang cukup baik.

“Jadi sebelumnya (turun hujan tinggi) padi yang berbuah awal hasilnya lebih baik,” ungkapnya.

Baca juga: Tambah Daya Tarik Wisata, Kelompok Anak Muda Tebar Ribuan Ikan Koi dan Nila di Subak Jatiluwih

Mustra mengakui, bahwa penurunan panen ini tidak ada hubungannya dengan pupuk. Baik organik atau pun non organik. Hanya saja, untuk kawasan Jatiluwih memang sudah bertahun-tahun menggunakan pupuk organik.

Diakuinya, bahwa pupuk organik itu lebih baik ketimbang non organik. Alasannya, pupuk organik itu tidak terasa di dua tahun awal saja. Namun, setelah dua tahun hasilnya akan sangat nampak.

“Hasil tujuh tahun organik, di awal memang agak turun. Setelah dua tahun barulah mulai terasa. Bahkan sekarang hasilnya lebih. Karena memang menggunakan pupuk organik, untuk pengolahan tanah yang lebih mudah. Keuntungan bisa langsung dirasakan sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa kondisi menurunnya hasil panen sekarang, sebenarnya tidak memberatkan petani. Alasannya, petani memang fokus pada masa tanam di bulan Januari mendatang, dengan menanam padi Bali.

Karena, padi Bali sedikit pengaruhnya ketika hujan tinggi. Singkat kata, maka kecil kemungkinan hasil panen padi bali menurun.

Sedangkan untuk masa panen akhir tahun ini, sudah berlangsung sejak 20 November lalu dan akan berkahir awal Desember 2022 nanti. "Dari luas 227, 41 hektare sudah sebagian besar panen. Tinggal lagi dikit saja, Mudah-mudahan saat panen ini cuaca mendukung," bebernya. (ang).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved